Kamis, 02 April 2015

TUGAS SOFTSKILL - INDIVIDU

BAB I
PENGERTIAN PERILAKU ORGANISASI.
Pengertian Perilaku Organisasi  - Perilaku organisasi adalah suatu studi yang mempelajari tingkah laku manusia dimulai dari tingkah laku secara individu, kelompok dan tingkah laku ketika berorganisasi, serta pengaruh perilaku individu terhadap kegiatan organisasi dimana mereka melakukan atau bergabung dalam organisasi tersebut.
Perilaku organisasi merupakan suatu bidang studi yang mengamati tentang pengaruh perilaku individu, kelompok dan perilaku dalam struktur organisasi dengan maksud untuk mendapatkan pengetahuan guna memperbaiki keefektifan organisasi.
Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana seharusnya perilaku tingkat individu, tingkat kelompok, serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi).
Pengertian prilaku organisasi menurut beberapa ahli,sebagai berikut :
  • Toha (2001) bahwa yang dimaksud perilaku organisasi adalah suatu studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku manusia dalam suatu organisasi atau suatu kelompok tertentu.
  • John (1983) yang menyebutkan bahwa perilaku organisasi merupakan suatu istilah yang agak umum yang menunjukkan kepada sikap dan perilaku individu dan kelompok dalam organisasi, yang berkenaan dengan studi sistematis tentang sikap dan perilaku, baik yang menyangkut pribadi maupun antar pribadi di dalam konteks organisasi.
  • James L. Gibson, John. M. Ivancevich, James. H. Donelly Jr. (1986) menyebutkan bahwa yang dimaksud perilaku organisasi adalah studi tentang perilaku manusia, sikapnya dan hasil karyanya dalam lingkungan keorganisasian.
  • Robbin (2001) bahwa perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang menyelidiki dampak perorangan, kelompok dan struktur pada perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki keefektifan organisasi.
  • Prof.Joe.Kelly , perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang mempelajari sifat-sifat organisasi, termasuk bagaimana organisasi di bentuk, tumbuh dan berkembang.
  • Drs. Adam Indrawijaya, perilakuorganisasi adalah suatu bidang studi yang mempelajari semua aspek yang berkaitan dengan tindakan manusia, baik aspek pengaruh anggota terhadap organisasi maupun pengaruh organisasi terhadap anggota.
  • Drs. Sutrisna Hari, MM, perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang mempelajari dinamika organisasi sebagai hasil interaksi dari sifat khusus (karakteristik) anggota dan sifat khusus (karakteristik) para anggotannya dan pengaruh lingkungan.
  • Larry L Cummings bahwa perilaku organisasi adalah suatu cara berpikir, suatu cara untuk memahami persoalan-persoalan dan menjelaskan secara nyata hasil-hasil penemuan berikut tindakan-tindakan pemecahan.
RUANG LINGKUP PRILAKU ORGANISASI
          Perilaku Organisasi, sesungguhnya terbentuk dari perilaku-perilaku individu atau kelompok yang terdapat dalam organisasi tersebut. Oleh karena itu – sebagaimana telah disinggung diatas – pengkajian masalah perilaku organisasi jelas akan meliputi atau menyangkut pembahasan mengenai perilaku individu atau kelompok. Dengan demikian dapat dilihat bahwa ruang lingkup kajian ilmu perilaku organisasi hanya terbatas pada dimensi internal dari suatu organisasi. 
Dalam kaitan ini, aspek-aspek yang menjadi unsur-unsur, komponen atau sub sistem dari ilmu perilaku organisasi antara lain adalah : motivasi, kepemimpinan, stres dan atau konflik, pembinaan karir, masalah sistem imbalan, hubungan komunikasi, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, produktivitas dan atau kinerja (performance), kepuasan, pembinaan dan pengembangan organisasi (organizational development), dan sebagainya.Sementara itu aspek-aspek yang merupakan dimensi eksternal organisasi seperti faktor ekonomi, politik, sosial, perkembangan teknologi, kependudukan dan sebagainya, menjadi kajian dari ilmu manajemen strategik (strategic management). 
          Jadi, meskipun faktor eksternal ini juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan organisasi dalam mewujudkan visi dan misinya, namun tidak akan dibahas dalam konteks ilmu perilaku organisasi.
KERANGKA DASAR KONSEP PERILAKU ORGANISASI
Kerangka dasar pada perilaku organisasi adalah terletak pada dua komponen yaitu individu-individu yang berperilaku, baik itu perilaku secara individu, perilaku kelompok, dan perilaku organisasi.
Komponen yang kedua adalah organisasi formal sebagai wadah dari perilaku itu. Yaitu sebagai sarana bagi ndividu dalam bermasyarakat ditandai dengan keterlibatannya pada suatu organisasi. Dan, menjalankan perannya dalam organisasi tersebut.


BAB II
DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDU

2.1 Pengertian Dasar Perilaku Individu
Perilaku adalah respon individu terhadap stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai tujuan baik disadari ataupun tidak.
Individu berasal dari kata individiuum, yang artinya tak terbagi. Individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya.
Makna manusia menjadi individu apabila pola tingkah lakunya hampir identik dengan tingkah laku massa yang bersangkutan. Proses yang meningkatkan ciri-ciri individualitas pada seseorang sampai pada dirinya sendiri disebut proses individualitas atau aktualisasi diri. Individu dibebani berbagai peranan yang berasal dari kondisi kebersamaan hidup, maka muncul struktur masyarakat yang akan menentukan kemantapan masyarakat. Konflik mungkin terjadi karena pola tingkah laku spesifik dirinya bertentangan dengan peranan yang dituntut oleh masyarakat disekitarnya.
Perilaku manusia sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perilaku itu sendiri adalah suatu fungsi dari interaksi antara seorang individu dengan lingkungannya. Dilihat dari sifatnya, perbedaan perilaku manusia itu disebabkan karena kemampuan, kebutuhan, cara berpikir untuk menentukan pilihan perilaku, pengalaman, dan reaksi affektifnya berbeda satu sama lain.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diartikan bahwa dasar perilaku individu merupakan bakat atau pembawaan dari respon seseorang terhadap stimulus (rangsangan) yang berasal dari lingkungannya.



2.2 Konsep Diri Individu
Diri adalah inti dari keberadaan seseorang dengan sadar. Kewaspadaan diri diartikan sebagai konsep diri seseorang. Sosiolog Victor Gecas mendefinisikan konsep diri (self concept) sebagai “konsep yang dimiliki oleh individu atas dirinya sendiri sebagai suatu mahluk fisik, sosial, dan spiritual atau moral. Dengan kata lain, suatu konsep diri tidak akan mungkin ada tanpa kapasitas untuk berpikir.
Menurut pendapat George Herbert Mead, diri manusia berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain. Tahap-tahap pengembangan diri (self) manusia, yaitu :
1.      Tahap Persiapan (Prepatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri
2.      Tahap meniru (Play Stage)
Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri, siapa nama orang tuanya, kakaknya, dsb. Dengan kata lain, sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap nilai dan norma
3.      Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah
4.      Tahap Penerimaan Norma Kolektif  (Generalized Stage)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa

*     Model konseptual untuk mempelajari perbedaan individu dalam Perilaku Organisasi :
a.       Self Esteem (penghargaan diri)
Adalah suatu keyakinan nilai dari diri sendiri berdasarkan evaluasi diri secara keseluruhan. Self Esteem diukur dengan menanyakan kepada para responden dengan melakukan survei untuk menentukan kesepakatan atau ketidaksepakatan dengan pernyataan positif maupun negatif. Pernyataan positif, misal saya merasa bahwa saya adalah seseorang yang berarti seperti yang lainnya. Pernyataan negatif, misal saya merasa tidak memiliki banyak hal untuk dibanggakan.
b.      Self Efficacy (kemanjuran diri)
Adalah keyakinan seseorang mengenai peluangnya untuk berhasil mencapai tugas tertentu. Self Efficacy muncul secara lambat laun melalui pengalaman, kemampuan-kemampuan kognitif, sosial, bahasa atau fisik yang rumit. Pengalaman masa kanak-kanak memiliki dampak yang kuat pada self efficacy.
c.       Self Monitoring (pemantauan diri)
Adalah lingkup dimana seseorang mengamati perilaku ekspresifnya dan menyesuaikannya dengan situasi. Para ahli dalam bidang ini menjelaskan individu-individu yang memiliki self monitoring tinggi mengatur penampilan diri mereka yang ekspresif untuk penampilan publik yang diinginkan. Para individu yang rendah self monitoringnya, dianggap kurang mampu atau tidak termotivasi untuk mengatur penampilan ekspresif diri mereka sendiri. Oleh karena itu, perilaku ekspresif mereka dianggap secara fungsional mencerminkan keadaan dalam diri mereka sendiri yang berjalan lama dan sejenak termasuk sikap, ciri, dan perasaan mereka.



2.3 Unsur-unsur Pembentuk Perilaku
*     Konsep Perubahan Perilaku dan Determinannya
Skinner, mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respon). Secara operasional perilaku diartikan sebagai suatu respon seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek.
Menurut Bloom, membagi perilaku manusia kedalam 3 domain (ranah) yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Ketiga ranah tersebut diukur melalui :  pengetahuan (knowledge), sikap/tanggapan (attitude), dan praktek (practical).
          1.          Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
Menurut Rogers bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu :
a.       Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus
b.      Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut
c.       Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya
d.      Trial, subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus
e.       Adaption, subjek telah berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus

*      Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu:
a.       Tahu (know) artinya mengingat kembali suatu materi (Recall) yang telah dipelajari
b.      Memahami (comprehension) artinya kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang    diketahui
c.       Aplikasi adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi sebenarnya
d.       Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-komponen yang masih dalam suatu struktur organisasi
e.       Sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang sudah ada
f.       Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur.

2.        Sikap
Menurut Likert (Azwar, 1995) sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan seseorang terhadap satu objek perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable).
Menurut Notoatmodjo orang mau menerima dan memperhatikan tingkatan, antara lain:
a.      Menerima artinya orang mau menerima dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek
b.      Merespon artinya memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas adalah suatu indikasi dari sikap
c.       Menghargai artinya mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain suatu masalah
d.       Bertanggung jawab adalah bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko.
Pengukuran sikap dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek (sangat setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju)
3.        Praktek atau tindakan
Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung yang memungkinkan, antara lain fasilitas dan dukungan (support).
*      Praktek meliputi beberapa tingkat, antara lain:
a.       Persepsi adalah mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil
b.      Respon terpimpin yaitu dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar
c.       Mekanisme yaitu apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis dan sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.


2.4 Mekanisme Pembentukan Perilaku
A.    Pandangan Behavioristik
Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan, karena stimulus datang dari lingkungan (world) dan respon juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme terjadi.
Yang dimaksud dengan lingkungan (world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu :
1.      Lingkungan objektif (umgebung = segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).
2.      Lingkungan efektif (umwelt = segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya)
Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan.
à    Contoh :
Seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas, secara spontan mahasiswa tersebut mengipas-ngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.
Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan dan menjadi stimulus bagi mahasiswa tersebut, secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah setelah mengipas-ngipaskan buku.
Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut:
à    Contoh :
Ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung, ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas, sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan.
Ruangan kelas yang gelap, waktu sore hari, dan cuaca mendung merupakan lingkungan, ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya, meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya berjalan ke depan, meminta ijin ke dosen, dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut, suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan lingkungan (W).

B.     Pandangan humanistic
             Menurut pandangan ini perilaku merupakan siklus dari dorongan timbul, aktivitas dilakukan, tujuan dihayati, dan kebutuhan terpenuhi atau rasa puas.
Sebenarnya, masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf, otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak).
Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi, mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas, sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. Menggerakkan kaki menuju ke depan, mengucapkan minta izin kepada dosen, tangan menekan saklar lampu merupakan effector.

*     Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme)
Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan why (mengapa). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya, akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya.
Dalam hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan individu secara hierarkis, yaitu:
1.      kebutuhan fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan
2.      kebutuhan keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual
3.      kebutuhan kasih sayang atau penerimaan
4.      kebutuhan prestise atau harga diri, yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
5.      kebutuhan aktualisasi diri.
      
       Sementara itu, Stranger menyebutkan empat jenis kebutuhan individu, yaitu:
1.      Kebutuhan berprestasi (need for achievement), yaitu kebutuhan untuk berkompetisi, baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi
2.      Kebutuhan berkuasa (need for power), yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain
3.      Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation), yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok, membentuk keluarga, organisasi ataupun persahabatan
4.      Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure), yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya.
       Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior), sehingga membentuk suatu siklus.
*      Berkaitan dengan motif individu, untuk keperluan studi psikologis, motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan, yaitu :
1.      Motif primer (basic motive dan emergency motive); menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari, dikenal dengan istilah drive, seperti: dorongan untuk makan, minum, melarikan diri, menyerang, menyelamatkan diri dan sejenisnya
2.      Motif sekunder; menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari, seperti: takut yang dipelajari, motif-motif sosial (ingin diterima, konformitas dan sebagainya), motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi, manipulasi. minat), maksud dan aspirasi serta motif berprestasi.
Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya, yaitu : (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.
Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu, adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik.


*      Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah :
1.      Approach-approach conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat, dikehendaki serta bersifat positif
2.      Avoidance-avoidance conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif
3.      Approach-avoidance conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih, yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya.
Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan.
Dalam pandangan holistik, disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya, setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan tertentu. Dalam hal ini, terdapat dua kemungkinan, tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). Namun sebaliknya, jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya, bergantung kepada akal sehatnya (reasoning, inteligensi). Jika akal sehatnya berani menghadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). Namun, jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosionalnya, maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment).
*      Bentuk perilaku salah suai (maldjustment), diantaranya :
1).          Agresi marah
2).          Kecemasan tak berdaya
3).          Regresi (kemunduran perilaku)
4).          Fiksasi
5).          Represi (menekan perasaan)
6).          Rasionalisasi (mencari alasan)
7).          Proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan)
8).          Sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis)
9).          Kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain)
10).      Berfantasi dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya).
Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik.
à    Contoh :
Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa, sejak awal Arjuna sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan, sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives).
Untuk tujuan jangka pendeknya, dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan, dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan, yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen.
Tujuan jangka menengah, pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). Selain itu, nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL), dia berharap dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang, dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten.
Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan, memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A, memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL), keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik).
Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan, dia memperoleh pengetahuan yang luas, sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. Pada akhir semester, dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya, pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya, bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya.
Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah, para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. Begitu juga, rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten, dia berhasil meraih sebagai juara pertama. Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya, baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). Bagi dirinya, Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses.

*      Ada lima jenis perilaku individu, yaitu :
1).    Perilaku sadar, perilaku yang melalui kerja otak dan  pusat susunan syaraf
2).    Perilaku tak sadar, perilaku yang spontan  atau instingtif
3).    Perilaku  tampak dan tidak tampak
4).    Perilaku sederhana dan kompleks
5).    Perilaku kognitif, afektif, konatif, dan psikomotor.


2.5 Pendekatan untuk Memahami Perilaku
Pendekatan yang sering dipergunakan untuk memahami perilaku manusia adalah pendekatan kognitif, reinforcement, dan psikoanalistis. Berikut penjelasan ketiga pendekatan tersebut dilihat dari :
1.      Penekanan
*      Pendekatan kognitif menekankan mental internal, seperti berpikir dan menimbang. Penafsiran individu tentang lingkungan dipertimbangkan lebih penting dari lingkungan itu sendiri
*      Pendekatan penguatan (reinforcement) menekankan pada peranan lingkungan dalam perilaku manusia. Lingkungan dipandang sebagai sebagai suatu sumber  yang dapat menghasilkan dan memperkuat respon perilaku
*      Pendekatan psikoanalistis menekankan peranan sistem personalitas di dalam menentukan suatu perilaku. Lingkungan dipertimbangkan hanya sebagai ego yang berinteraksi dengannya untuk memuaskan keinginannya.

2.      Penyebab Timbulnya Perilaku
*      Pendekatan kognitif, perilaku dikatakan timbul dari ketidakseimbangan atau ketidaksesuaian pada struktur kognitif, yang dapat dihasilkan dari persepsi tentang lingkungan
*      Pendekatan penguat (reinforcement), menyatakan bahwa perilaku itu ditentukan oleh lingkungan baik sebelum terjadinya perilaku maupun sebagai hasil dari perilaku
*      Pendekatan psikoanalistis, perilaku itu ditimbulkan oleh ketegangan (tension) yang dihasilkan oleh tidak tercapainya keinginan.

3.      Proses
*      Pendekatan kognitif, menyatakan bahwa kognisi (pengetahuan dan pengalaman) adalah proses mental yang saling menyempurnakan dengan struktur kognisi yang ada. Dan akibat ketidaksesuaian dalam struktur menghasilkan perilaku yang dapat mengurangi ketidaksesuaian tersebut
*      Pendekatan penguatan (reinforcement), lingkungan yang bereaksi dalam diri individu mengundang respon yang ditentukan oleh sejarah. Sifat dari reaksi lingkungan pada respon tersebut menentukan kecenderungan perilaku masa mendatang
*      Pendekatan psikoanalistis, keinginan dan harapan dihasilkan dalam Id kemudian diproses oleh ego di bawah pengamatan superego.

4.      Kepentingan masa lalu dalam menentukan perilaku
*      Pendekatan kognitif, tidak memperhitungkan masa lalu. Pengalaman masa lalu hanya menentukan pada struktur kognitif, dan perilaku adalah suatu fungsi dari pernyataan masa sekarang dari sistem kognitif seseorang tanpa memperhatikan proses masuknya dalam sistem
*      Pendekatan penguatan (reinforcement), bersifat historic. Suatu respon seseorang terhadap stimulus tertentu adalah menjadi suatu fungsi dari sejarah lingkungannya
*      Pendekatan psikoanalistis, masa lalu seseorang dapat menjadikan suatu penentu yang relatif penting bagi perilakunya. Kekuatan yang relatif dari Id, ego, superego ditentukan oleh interaksi dari pengembangannya di masa lalu.
5.      Tingkat dari kesadaran
*      Pendekatan kognitif, memang ada aneka ragam tingkatan kesadaran, tetapi dalam kegiatan mental yang sadar, seperti berpikir, mengetahui, dan memahami dipertimbangkan sangat penting
*      Pendekatan penguatan (reinforcement), tidak ada perbedaan antara sadar atau tidak. Biasanya aktivitas mental dipertimbangkan menjadi aktivitas lain dari perilaku dan tidak dihubungkan dengan kasus kekuasaan apapun. Aktivitas mental seperti berpikir dan berperasaan dapat saja diikuti dengan perilaku yang terbuka, tetapi bukan berarti berpikir dan berperasaan dapat menyebabkan terjadinya perilaku terbuka
*      Pendekatan psikoanalistis, hampir sebagian besar aktivitas mental adalah tidak sadar. Aktivitas tidak sadar dari Id dan superego secara luas menentukan perilaku.
6.      Data
*      Pendekatan kognitif, data atas sikap, nilai, pengertian, dan pengharapan pada dasarnya dikumpulkan lewat survey dan kuestioner
*      Pendekatan penguatan (reinforcement), mengukur lingkungan dan respon materi atau fisik yang dapat diamati, lewat observasi langsung atau dengan pertolongan sarana teknologi
*      Pendekatan psikoanalistis, menggunakan data ekspresi dari keinginan, harapan, dan bukti penekanan dan bloking dari keinginan tersebut lewat analisa mimpi, asosiasi bebas, teknik proyektif, dan hipnotis.

2.6 Variabel Perilaku Individu
*     Menurut Gibson, kelompok variabel individu terdiri dari variabel kemampuan dan keterampilan, latar belakang pribadi, dan demografis :
1.      Variabel kemampuan dan keterampilan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja individu
2.      Sedangkan variabel demografis mempunyai pengaruh yang tidak langsung
3.      Kelompok variabel psikologis terdiri dari variabel persepsi, sikap, kepribadian, belajar, dan motivasi. Variabel ini menurut Gibson banyak dipengaruhi oleh keluarga, tingkat sosial, pengalaman kerja sebelumnya,dan variabel demografis.
4.      Kelompok variabel organisasi, terdiri dari variabel sumber daya kepemimpinan, imbalan, struktur, dan desain pekerjaan.
*     Menurut Kopelman, variabel imbalan akan berpengaruh terhadap variabel motivasi yang pada akhirnya secara langsung mempengaruhi kinerja individu.
*     Menurut Adam Ibrahim, perilaku individu dalam organisasi berusaha mengerti tentang kepribadian, persepsi, proses belajar, motivasi.
*     Menurut Stephen Robbins ada empat variabel tingkat individu :
1.      Karakteristik Biografis
Perbedaan karakteristik biografis (karakteristik pribadi yang objektif, misalnya usia, jenis kelamin, status perkawinan, banyak tanggungan, masa kerja)  pada diri individual sering dikaitkan dengan kinerja seseorang dalam organisasi. Banyak yang meyakini bahwa ada hubungan-hubungan yang berkaitan, misalnya tingkat kepuasan kerja, tingkat absensi, keinginan untuk maju, dsb.
*      Berikut adalah karakteristik-karakteristik biografis dari seorang individu dilihat dari kinerja saat bekerja :
A.     Usia
Hubungan antara usia dan kinerja pekerjaan kemungkinan adalah isu yang semakin penting dalam dekade mendatang. Alasannya:
1.      Karena terdapat keyakinan meluas bahwa kinerja merosot dengan meningkatnya usia
2.      Realitas bahwa angkatan kerja telah menua, misalnya pekerja usia 55 tahun dan yang lebih tua merupakan sektor yang berkembang paling cepat dari angkatan kerja dewasa ini
3.      Perundang-undangan
      Amerika yang baru-baru ini menyatakan bahwa dengan maksud dan tujuan apapun melarang perintah pensiun. Sebagian besar pekerja dewasa ini tidak langsung pensiun pada usia 70 tahun.

B.     Jenis Kelamin
Dari segi jenis kelamin, umumnya tidak ada perbedaan yang konsisten antara pria dan wanita dalam hal kemampuan memecahkan masalah, keterampilan analisis, dorongan kompetitif, motivasi, sosibilitas, produktivitas pekerjaan, kepuasan kerja atau kemampuan belajar. Namun, hasil studi menunjukkan bahwa wanita lebih bersedia mematuhi wewenang dibandingkan pria yang lebih agresif dan lebih besar kemungkinannya dalam memiliki pengharapan untuk sukses, namun tetap saja perbedaannya kecil.

C.     Status Perkawinan
Tidak ada studi yang cukup banyak penelitian untuk menyimpulkan mengenai efek status perkawinan terhadap produktivitas. Namun riset secara konsisten menunjukkan bahwa karyawan yang akan menikah lebih sedikit absensinya, mempunyai tingkat pengunduran yang lebih rendah, dan lebih puas dengan pekerjaan daripada rekan sekerjanya yang bujangan. Pernikahan menuntut tanggung jawab lebih besar  yang mungkin membuat pekerjaan tetap lebih berharga dan penting. Sangat mungkin bahwa karyawan yang tekun dan puas berkemungkinan lebih besar untuk menikah.
Biasanya yang membuat ada perbedaan adalah karena posisi wanita sebagai ibu yang juga harus merawat anak-anaknya. Ini juga yang menimbulkan anggapan bahwa wanita lebih sering mangkir daripada pria. Jika anak-anak sakit tentulah ibu yang akan merawat dan menemani di rumah.

D.     Banyak Tanggungan
Sangat sedikit riset yang dilakukan mengenai hubungan antara banyaknya tanggungan yang dipunyai seorang karyawan dan absensi, pergantian, dan kepuasan kerja. Bukti yang kuat menyatakan bahwa anak yang dipunyai seorang karyawan mempunyai suatu hubungan yang positif antara banyaknya tanggungan dan kepuasan kerja.

E.      Masa Kerja
Riset yang menghubungkan masa kerja dengan keabsenan sangatlah tegas. Secara konsisten penelitian-penelitian menunjukkan bahwa tidak ada alasan karyawan yang lebih lama bekerja (senior) akan lebih produktif daripada junior. Masa kerja merupakan variabel penjelas tunggal yang paling penting dalam menjelaskan tingkat pengunduran diri karyawan.
Semakin lama orang berada dalam pekerjaan, semakin kecil kemungkinan untuk mengundurkan diri.

2.      Kemampuan
Merupakan kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan.
*     Kemampuan keseluruhan dari seorang individu tersusun dari dua faktor :
1)      Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang diperlukan untuk mengerjakan kegiatan mental, misalnya berpikir, menganalisis, memahami, yang mana dapat diukur dalam bentuk tes IQ. Setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda.
*      Ada 7 dimensi yang membentuk kemampuan intelektual seseorang:
1.        kemahiran berhitung
2.        pemahaman verbal
3.        kecepatan perceptual
4.        penalaran induktif
5.        penalaran deduktif
6.        visualisasi ruang
7.        visualisasi ingatan
Tes semua dimensi di atas akan menjadi predictor yang tepat untuk  menilai kinerja seluruh karyawan.
2)      Kemampuan Fisik adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan, dan keterampilan fisik lainnya. Kemampuan fisik ini tentu disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dijalankan.



*      Ada 9 kemampuan fisik dasar yang porsinya dimiliki secara berbeda oleh tiap individu :
                                                                1.          kekuatan dinamis
                                                                2.          kekuatan tubuh
                                                                3.          kekuatan statis
                                                                4.          kekuatan
                                                                5.          keluwesan extent
                                                                6.          keluwesan dinamis
                                                                7.          koordinasi tubuh
                                                                8.          keseimbangan
                                                                9.          stamina

3.      Kepribadian
*     Konsep dasar kepribadian
Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “personality”. Secara etimologis, kata personality berasal dari bahasa latin “persona” yang berarti topeng.
Menurut  Gordon W Allport “personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system, that determines his unique adjusment to his environment”.
Menurut Stephen Robbin, kepribadian merupakan cara individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. Kepribadian terbentuk dari faktor keturunan, juga lingkungan (budaya, norma, keluarga, dan pengaruh lainnya) dan juga situasi. Sekaligus kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan tingkah laku sosial tertentu, baik berupa perasaan, berpikir, bersikap, dan berkehendak, maupun perbuatan.
*     Faktor yang mempengaruhi kepribadian adalah pembawaan dan pengalaman (umum dan khusus).


*     Ciri dari kepribadian :
Karakteristik yang bertahan, yang membedakan perilaku seorang individu, seperti sifat malu, agresif, mengalah, malas, ambisius, setia.
Menurut Nimran, kepribadian sebagai pengorganisasian yang dinamis dari sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Dia menambahkan bahwa kepribadian sebagai keseluruhan cara bagaimana individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. Semakin konsisten karakteristik, seperti pemalu, agresif, malas, jujur, dsb muncul di saat merespon lingkungan, hal itu menunjukkan faktor keturunan atau pembawaan merupakan faktor yang penting dalam membentuk kepribadian seseorang.
*     Teori tentang kepribadian yang layak dipahami :
1.      Teori psikoanalisis
Sigmun Freud, pencetus teori ini, mengemukakan bahwa kepribadian memiliki tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah komponen dasar dan berkembang ketika masih kanak-kanak, bahkan bisa sampai tua sekalipun. Orang yang memperturutkan elemen kepribadian id ini akan terus mengumbar hawa nafsunya, karena id merupakan elemen kepribadian yang berkenaan dengan kata hati, hasrat, dan keinginan untuk mengejar kesenangan dan kepuasan. Superego merupakan elemen kepribadian yang tumbuh dan berkembang, naik turun selama manusia hidup. Superego merupakan gudang nilai, norma, dan etika yang dianut seseorang. Ego merupakan elemen kepribadian yang bersifat sebagai penengah dari dua elemen sebelumnya, id dan superego.

2.      Teori pemenuhan
Carl Rogers mencetuskan fullfillment theory atau teori pemenuhan. Teori ini didasari suatu premis bahwa manusia hanya memiliki satu dasar kekuatan yang secara terus-menerus mendorongnya ke arah pemenuhan akan aktualisasi diri. Maslow juga mengemukakan teori pemenuhan kebutuhan. Menurutnya, kebutuhan manusia itu bertingkat, dimulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
*      Ada lima tingkatan kebutuhan manusia :
                                                         1.         Kebutuhan fisiologis, merupakan kebutuhan yang paling mendasar
                                                         2.         Kebutuhan akan rasa aman, merupakan kebutuhan yang kedua, baik secara fisik maupun mental
                                                         3.         Kebutuhan sosial, karena secara kodrati manusia merupakan mahluk sosial
                                                         4.         Kebutuhan akan rasa harga diri, setiap orang membutuhkan penghargaan, pengakuan, dan kepercayaan dari orang lain
                                                         5.         Kebutuhan akan aktualisasi diri, setiap orang memiliki potensi diri yang ingin dikembangkan seoptimal mungkin.
Berdasarkan dua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa didalam hidupnya setiap manusia memiliki kebutuhan dari yang paling mendasar hingga aktualisasi diri sehingga manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhannya itu.

3.      Teori konsistensi
Menurut teori ini kepribadian manusia itu tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan dimana manusia itu hidup. Teori ini disebut teori konsistensi karena manusia selalu mempersepsikan setiap stimulus yang datang dari lingkungan kemudian mengembangkan sikap dan perilaku sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Salah satu teori konsistensi yang terkenal adalah teori disonansi kognitif yang berkaitan dengan pikiran, harapan, persepsi, sikap dan pendapat. Menurut teori ini, manusia memiliki keinginan untuk mempertahankan konsistensi sikap, pengalaman, dan perilakunya. 

*     Atribut Kepribadian
Ada sejumlah atribut kepribadian yang perlu dicermati:
a.       Daerah pengendalian
Ada dua daerah pengendalian, yaitu kepribadian bersifat pengendalian internal yang merupakan kepribadian dimana seseorang percaya bahwa dialah yang mengendalikan apa yang terjadi pada dirinya. Serta kepribadian bersifat eksternal yang merupakan keyakinan seseorang bahwa apa yang terjadi pada dirinya ditentukan oleh lingkungan, seperti nasib dan keberuntungan.
b.      Paham otoritarian
Paham ini berkeyakinan bahwa ada perbedaan status dan kekuasaan pada orang-orang yang ada dalam organisasi. Sifat kepribadian otoritarian yang tinggi memiliki intelektual yang kaku, membedakan orang atau kedudukan dalam organisasi, mengeksploitasi orang yang memiliki status di bawahnya, suka curiga, dan menolak perubahan.
c.       Orientasi Prestasi
Mc Clelland, tentang kebutuhan untuk berprestasi, menyebutkan bahwa ada dua karakteristik sifat kepribadian seseorang yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi tinggi, yaitu:
                                                   1.         Mereka secara pribadi ingin bertanggung jawab atas keberhasilan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan padanya
                                                   2.         Mereka lebih senang dengan suatu tingkatan risiko.

*     Tipe Kepribadian
Meskipun kepribadian itu unik tetapi ada beberapa ahli yang berusaha menggolongkan kepribadian, misalnya Hipocrates dan Gelanus  yang membagi tipologi kepribadian menjadi 4 tipe yaitu :
1)      Kholeris
2)      Melankolis
3)      plegmatis, dan
4)      sanguinis.
Kretschmer meninjau tipologi kepribadian berdasarkan segi konstitusi dan temparament. Berdasarkan konstitusi jasmani manusia digolongkan menjadi tipe piknis, leptosom, atletis dan displatis. Sedangkan berdasarkan temperamen kejiwaan manusia digolongkan menajdi schizophrenia dan depresif.
Berdasarkan orientasi nilai, Spranger mengemukakan 6 tipologi manusia yaitu, teoritik, ekonomi, estetis, agama, moral, dan kekuasaan.
Pengukuran kepribadian dapat ditempuh dengan cara observasi, inventory dan teknik proyektif.
*     Jenis dan Teori Kepribadian
Dua diantara pendekatan paling tua untuk mendeskripsikan kepribadian melibatkan penggolongan orang-orang kedalam satu angka terbatas dengan jenis berbeda dan menskalakan derajat kemana mereka dapat dideskripsikan oleh ciri berbeda. Di sana, sepertinya ada kecenderungan alami untuk orang-orang tempatkan mereka sendiri dan perilakunya orang lain kedalam kategori berbeda. Untuk menguji teori formal, para ahli jiwa telah mengembangkan perbedaan ini berdasarkan jenis dan ciri. Banyak orang-orang gemar mempergunakan jenis kepribadian pada kehidupan sehari-hari, karena mereka menolong menyederhanakan proses kompleks dari pemahaman orang lain.
Salah satu jenis paling awal teori dimulai pada abad kelima oleh Hippocrates, ahli pengobatan Yunani yang memberikan perobatan sumpah Hippocratic. Dia membuat teori bahwa tubuh yang kandung empat zalir dasar atau senangkan hati, masing-masing berhubungan dengan satu perangai tertentu, satu pola emosi dan perilaku.
Pada abad detik A.D, satu ahli pengobatan Yunani, Galen kepribadian perorangan itu bergantung pada humor yang adalah utama pada tubuhnya. Galen memasangkan Hippociates s humor tubuh dengan perangai kepribadian sesuai dengan perancangan berikut :
*      Darah. Perangai riang penuh harapan       : gembira dan aktif
*      Dahak. Perangai bersikap dingin              : bersikap masa bodoh dan melempem
*      Empedu hitam. Perangai melankolis         : sedih dan pengepungan
*      Empedu kuning. Perangai lekas marah     :yang dapat menimbulkan sakit dan yang dapat dirangsang.
Teori yang diajukan Galen diyakini untuk centuries, taiki melalui Zaman Pertengahan, walau ini belum menghambat ke penelitian dengan cermat modern.
Di waktu modern, William Sheldon mengemukakan satu teori bentuk badan terkait dengan perangai. Dia menugaskan orang-orang ketiga kategori berlandaskan bangun tubuh mereka : endomorphic (lemak, lunak, ronde), mesomorphic (berotot, segi-empat, kuat) atau ectomorphic (encerkan, lama, rapuh).
Berdasarkan bangun tubuh tersebut, Sheldon meyakini bahwa Endomorps adalah disantaikan, suka makan, dan ramah. Mesomorphs adalah orang-orang fisik, diisi dengan daya, keberanian, dan kecenderungan tegas. Ectomorphs adalah cerdas, artistik, dan introvert, mereka memikirkan hidup dibandingkan pengkonsumsiannya. Untuk suatu masa waktu teorinya Sheldon cukup berpengaruh.



4.      Pembelajaran (proses belajar)
Adalah bagaimana kita dapat menjelaskan dan meramalkan perilaku, dan pahami bagaimana orang belajar.
Belajar adalah setiap perubahan yang relatif permanen dari perilaku individu yang terjadi sebagai hasil pengalaman.
Cronbach mengartikan “learning is shown by an change individual behaviour as a result of experiences.  Belajar juga dapat diartikan sebagai “proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh sesuatu yang baru sebagai hasil dari pengalaman.
*     Ciri perubahan perilaku hasil belajar adalah aktif, positif, dan berorientasi tujuan.
*     Beberapa prinsip belajar adalah :
1).    Memiliki tujuan dan disadari
2).    Adanya penerimaan informasi
3).    Terjadinya proses internalisasi,  dan
4).    Perubahan bersifat relatif permanen,
*      Belajar melibatkan perubahan (baik ataupun buruk)
*      Perubahan harus relatif permanen
*      Belajar berlangsung jika ada perubahan tindakan atau perilaku
*      Beberapa bentuk pengalaman diperlukan untuk belajar. Pengalaman dapat diperoleh lewat pengalamatan langsung atau tidak langsung (membawa) atau lewat praktek.
   Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Faktor di luar individu yang mempengaruhi belajar adalah faktor non-sosial dan faktor sosial. Sedangkan faktor dalam diri individu yang mempengaruhi belajar adalah faktor fisiologis dan psikologis.




    Ada beberapa teori pembelajaran :
                                 1.         Pengkondisian klasik merupakan suatu tipe pengkondisian dimana seorang individu menanggapi beberapa rangsangan yang tidak akan selalu menghasilkan respon yang sama.
                                 2.         Pengkondisian operan merupakan suatu tipe pengkondisian dimana perilaku sukarela yang diinginkan menyebabkan suatu penghargaan atau mencegah suatu hukuman.
                                 3.         Pembelajaran sosial yaitu orang dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Sering juga disebut teori pembelajaran sosial, ada proses-proses yang harus dialami didalamnya agar pembelajaran berlangsung baik, yaitu proses perhatian, proses penahanan, proses reproduksi motor, proses penguatan
BAB III
PERSEPSI DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN INDIVIDUAL


PERSEPSI

Persepsi dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan –kesan indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungan mereka. Apa yang di persepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang obyektif. Tidak harusi demikian, tetapi sering ada ketidaksepakatan.
Mengapa persepsi itu penting? Hal ini dikarenakan perilaku orang-orang didasarkan pada persepsi mereka didasarkan pada apa persepsi mereka mengenai apa realitas yang ada. Dunia seperti yang dipersepsikan adalah dunia yang penting dari segi perilaku.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI

1. Pelaku Persepsi
Bila individu memandang sutu objek dan mencoba untuk menafsirkannya, penafsiran itu sangat dipengaruhi karakteristik pribadi dari persepsi individu tersebut . Diantara karakteristik pribadi yang lebih relevan yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan (ekspetasi).

2. Target (objek)
Karakteristik-karakteristik dari target yang akan diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Selain itu target tidak dipandang secara terisolasi, hubungan target dengan latar belakangnya mempengaruhi persepsi. Faktor pada objek antara lain adalah hal baru, gerakan, bunyi, latar belakang, kedekatan.

3. Situasi
Penting bagi kita untuk melihat konteks objek dan peristiwa. Unsur lingkungan sangat mempengaruhi persepsi kita. Faktor yang mepengaruhi situasi adlah waktu, keadaan /tempat kerja, keadaan sosial.


PERSEPSI ORANG

Teori Atribusi
Persepsi kita terhadap orang berbeda dengan persepsi kita terhadap benda mati. Hal ini dikarenakan benda mati tidak memiliki keyakinan, motif, atau maksud. Akibatnya apabila kiata mengamati orang, kita berusaha mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa mereka berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu persepsi dan penilaian kita terhadap tindakan seseorang akan cukup banyak dipengaruhi oleh pengandaian-pengandaian yang kita ambil mengenai keadaan internal orang itu.
Teori atribusi adalah untuk mengembangkan penjelasan dari cara-cara kita menilai orang secara berlainan, bergantung kepada makna apa yang kita hubungkan ke sutau perilaku tertentu. Pada dasarnya, teori tersebut menyarankan bahwa bila kita mengamati perlaku seseorang individu, kita berusaha menentukan apakah perilaku itu karena penyebab internal ataukah eksternal.
Penentuan tersebut sebagian besar bergantung tiga faktor yaitu :

a. Kekhususan : apakah seorang individu memperlihatkan perilaku-perilaku yang berlainan dalam situasi yang berlainan.

b. Konsensus: jika semua orang yang mengahadapi situasi yang serupa bereaksi dengan cara yang sama.

c. Konsistensi: apakah orang itu memberi reaksi dengan cara yang sama dari waktu ke waktu.

Salah satu penemuan yang paling menarik dari teori atribusi adalah bahwa ada kekeliruan atau prasangka yang menyimpang teori atribusi. Kecenderungan untuk meremehkan pengaruh faktor luar dan melebih-lebihkan faktor internal disebut kekeliruan atribusi mendasar. Individu cenderung menghubungkan sukses mereka sendiri dengan faktor internal sementara menyalahkan faktor eksternal atas kegagalan mereka. Hal ini disebut prasangka layanan diri (self serving bias).
Jalan Pintas yang Sering Digunakan dalam Menilai Orang Lain

Persepsi selektif 

Orang orang secara selektif menafsirkan apa yang mereka saksikan berdasarkan kepentingan, latar belakang,pengalaman, dan sikap. Suatu contoh, lebih besar kecenderungan anda melihat motor yang mirip motor anda sendiri. Hal ini menunjukkan bagaimana kepentingan pribadi cukup mempengaruhi masalah-masalah yang kita lihat.

Efek halo
Manarik suatu kesan umum mengenai seseorang individu berdasarkan suatu karakteristik tunggal. Gejala ini sering terjadi ketika mahasiswa menilai dosen mereka di ruang kuliah. Jadi seorang dosen akan dinilai pendiam, banyak pengetahuan, populer, tetapi gayanya kurang bersemangat , ia akan dinilai lebih rendah mengenai karakteristik yang lain. Jelas, subyek-subyek membiarkan suatu ciri tunggal mempengaruhi seluruh kesan mereka dari orang-orang yang sedang dinilai.

Efek Kontras
Evaluasi atas karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh pembandingan dengan orang lain yang baru saja dijumpai yang berperingkat lebih tinggi atau lebih rendah pada karakteristik yang sama. Sebagai contoh, anda akan terlihat buruk apabila beradu acting dengan anak-anak. Hal ini dikarenakan penonton sangat mencintai anak-anak. Efek ini dapat memutar-balikkan persepsi. Reaksi kita terhadap satu orang sering dipengaruhi oleh orang lain yang baru saja kita jumpai.


Proyeksi
Menghubungkan karakteristiknya sendiri ke orang lain. Mudah untuk menilai orang lain jika kita mengasumsikan mereka serupa denagan kita. Kecenderungan untuk menghubungkan karakteristik sendiri kepada orang lain, dapat memutarbalilkan persepsi yang dibuat mengenai orang lain.

Berstereotipe
Menilai seseorang atas dasar persepsi seseorang terhadap kelompok itu. Sebagai contoh, andaikan anda seorang pengusaha yang sedang mencari seorang manajer. Anda mencari manjer yang suka bekerja keras dan dapat mengatasi masalah dengan baik. Di masa lalu anda memperoaeh sukses yang besar ketika mempekerjakan individu yang ikut dalam atletik ketika di universitas. Lebih jauh, sejauh para atlet itu suka bekerja keras dan adapat menangani masalah dengan baik pengambilan stereotype ini memperbaiki pengambilan keputusan anda. Tentu saja masalahnya apabila kita berstereotipe secara tidak akurat.

TAUTAN ANTARA PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL

Individu-individu dalam organisasi mengambil keputusan. Yaitu, mereka membuat pilihan dari dua alternatif atau lebih. Oleh karena itu, pengambilan keputusan individual merupakan suatu bagian penting dalam perilaku organisasi. Tetapi bagaimana individu-individu dalam organisasi mengambil keputusan, dan kualitas dari pilihan terakhir mereka, sebagian besar dipengaruhi oleh persepsi-persepsi mereka.

BAGAIMANA KEPUTUSAN HENDAKNYA DIAMBIL?
Proses Pengambilan Keputusan Rasional
Pengambil keputusan yang optimal harus rasional. Artinya dia membuat pilihan memaksimalkan nilai yang konsisten daam batas-batas tertentu. Pilihan dibuat mengikuti model pengambilan keputusan rasional.
Langkah-Langkah dalam Model Pengambilan Keputusan Rasional

1. Tetapkan masalah.
2. Identifikasikan kriteria keputusan.
3. Alokasikan bobot pada kriteria.
4. Kembangkan alternatif.
5. Evaluasilah alternatif.
6. Pililah alternatif terbaik.

Meningkatkan Kreativitas dalam Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan rasional membutuhkan kreativitas. Yakni, menggabungkan gagasan dalam satu cara yang unik atau untuk membuat asosiasi- asosiasi daintara gagasan-gagasan.

Potensial Kreatif
Kebanyakan orang mempunyai potensial kreatif yang dapat mereka gunakan bila dikonfrontasikan dengan sebuah masalah dalam pengambilan keputusan. Namun untuk melepaskan potensial itu, mereka harus keluar dari kebiasaan psikologis yang kebiasaan dari kita terlibat di dalamnya dan beajar bagaimana berpikir tentang satu masalah dengan cara yang berlainan.

Metode Untuk Merangsang Kreativitas Individual
Tindakan yang sederhana dapat sangat berpengaruh untuk menginstruksi seseorang menjadi kreatif dan menghindari pendekatan yang jelas terhadap satu masalah mengahasilkan gagasan yang lebih unik. Metode ini dinamakan instruksi langsung.
Metode lain adalah penyusunan atribut. Dalam metode ini, pengambilan keputusan mengisolasikan karakteristik dari alternatif tradisional. Setiap atribut utama dari alternatif selanjutnyapada gilirannya dipertimbangkan dan diubah dalam setiap cara yang mungkin. Tidak ada gagasan yang di tolak, betapa pun tampaknya lucu.
Kreatifitas juga dapat dirangsang oleh praktik pemikiran lateral atau zig-zag. Dengan pemikiran lateral, para individu menekankan pemikiran yang tidak menekankan pada satu pola melainkan pada penyetrukturan pola. Pemikiran itu tidak harus tepat setiap langkah. Pemikiran itu secara sengaja menggunakan informasi yang acak atau tidak relevan guna membawa satu cara baru untuk melihat suatu masalah.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI

Rasionalitas terbatas
Kemampuan dari pikiran manusia untuk memformulasi dan menyelesaikan masalah yang rumit itu terlalu kecil untuk memenuhi tuntutan bagi rasionalitas penuh, para individu beroperasi dalam keterbatasan rasionalitas. Mereka merancang model-model yang disederhanakan yang menyuling ciri-ciri hakiki dari masalah-masalah tanpa menangkap semua kerumitannya. Selanjutnya para individu dapat berperilaku rasional dalam batas-batas model yang sederhana.
Salah satu aspek yang lebih menarik dari model rasionalitas terbatas itu adalah bahwaurutan di mana alternatif-alternatif dipertimbangkanbersifat kritisdalam menentukan alternatif mana yang dipilih.

Intuitif

Pengambilan keputusan intuitif, baru-baru ini mulai muncul dan mulai disegani. Para pakar tidak lagi secara otomatis mengasumsikan penggunaan intuisi untuk pengambilan keputusan sebagai tak rasional. Terdapat pengakun yang makin berkembang bahwa analisis rasional terlalu ditekankan dan bahwa, pada kasus-kasus tertentu, mengandalkan pada intuisi dapat memperbaiki pengambilan keputusan.

Pengambilan keputusan intuitif sebagi suatu proses tak sadar yang diciptakan dari dalam pengalaman yang tersaring. Hasilnya adalah bahwa pengambil keputuusan intuitif dapat memutuskan dengan cepat dengan informasi yang terbatas. Intuisi ini tidak harus berjalan secara tak tergantung dengan analisis rasional. Lebih lengkap keduanya saling melengkapi.
Kemungkinan terbesar untuk orang menggunakan keputusan intuitif adalah dalam delapan kondisi yaitu :

1. Bila ada ketakpastian dalamtingkat yang tinggi.
2. Bila hanya sedikit preseden (sesuatu yang bisa dijadikan teladan) untuk diikuti.
3. Bila variable-variabel kurang dapat diramalkan secara ilmiah.
4. Bila fakta terbatas.
5. Bila fakta tidak jelas menunjukkan jalan untuk diikuti.
6. Bila data analitis kurang berguna.
7. Bila ada beberapa penyelesaian alternatifyang masuk akal untuk dipilih, dengan argument yang baik untuk masing masing.
8. Bila waktu terbatas dan ada tekanan untuk segera diambil keputusan yang tepat.
Identifikasi Masalah

Masalah-masalah yang tamapak cenderung memiliki probabilitas terpilih yang lebih tinggi dibanding masalah-masalah yang penting. Hal ini dikarenakan dua hal:

1. Mudah untuk mengenal masalah-masalah yang tampak.hal ini lebih mungkin menangkap perhatian pengambil keputusan. Ini menjelaskan mengapa pemerintah lebih memperhatikan masalah kriminal daripada buta huruf.

2. Perlu diingat bahwa kita prihatin dengan pengambilan keputusan dalam organisasi. Para pengambil keputusan ingin tampil kompeten dan berada di puncak masalah. Ini memotivasi mereka untuk memusatkan perhatian yang tampak bagi orang lain.

Adalah biasa dalam kepentingan terbaik pengambil keputusan menyerang masalah-masalah yang lagi “high”. Bila kinerja pengambil keputusan itu kemudian ditinjau kembali, pengevaluasi lebih mungkin memberikan penilaian yang tinggi kepada seseorang yang secara agresif menyerang masalah-masalah yang tampak disbanding kepada seseorang yang tindakan-tindakanya kurang tampak jelas.
Pengembangan Alternatif

Karena pengambil keputusan jarang mencari sesuatu pemecahan optimum, melainkan yang agak memuaskan, kamiberharap untuk menemukan sutu penggunaan minimal atas kreatifitas dalam mencari alternatif-alternatif.
Pengambil keputusan menghindari tugas-tugas sulit yang mempertimbangkan semuasemua factor penting, menimbang relatif untung dan ruginya, serta mengkalkulasikan nilai untuk masing masing alternatif.

Pengambil keputusan mengambil langkah kecil ke arah sasarannya. Dengan mengetahui sifat komprehehsif dari seleksi pilihan, para pengambil keputusan membuat perbandingan suksesif karenakeputusan tak diambil selama-lamanya atau ditulis di atas batu, melainkan keputusan-keputusan diambil dan dibuat lagi tanpa ada habisnya dalam perbandingan kecil antara pilihan-pilihan yang sempit.

Membuat pilihan

Untuk menghindari informasi yang terlalu sarat, para pengambil keputusan mengandalkan heuristik atau jalan pintas penilaian dalam pengambilan keputusan. Ada dua kategori umum heuristik yang masing-masing menciptakan bias dalam penilaian.

• Heuristik ketersediaan: Kecenderungan begi orang untuk mendasarkan informasi yang sudah ada di tangan mereka.

• Heuristik representatif: Menilai kemungkinan dari suatu kejadian dengan menarik analogi dan melihat situasi yang identik di mana sebenarnya tidak identik.

• Peningkatan komitmen: Suatu peningkatan komitmen pada keputusan sebelumnya meskipun ada informasi negative.
Gaya Pengambilan Keputusan

• Direktif
Orang yang menggunakan gaya direktif memiliki toleransi yang rendah terhadap ambiguitas dan mencari rasionalitas. Tipe direktif mengambil keputusan yang diambil dengan cepat dan beroriaentasi jangka pendek.


• Analitik
Tipe ini memiliki toleransi yang jauh lebih besar terhadap ambiguitas disbanding pengambil keputusan direktif. Lebih banyak informasi dan pertimbangan atas alternatif yang lebih banyak ketimbang alternatif yang digunakan tipe direktif.

• Konseptual
Individu cenderung menjadi sangat luas dalam pandangan mereka dan mempertimbangkan banyak alternatif. Orientasi mereka jangka panjang dan mereka sangat baik dalam menetukan solusi yang kreatif.

• Behavior 
Pengambil keputusan yang baik dengan yang lain. Mereka memperhatikan kinerja dari orang lain dan bawahannya serta reseptif terhadap usulan-usulan. Gaya manajer ini mengutamakan komunikasi dan penerimaan.
Perbedaan kultural
Kita perlu mengakui bahwa latar belakang budaya dari pengambil keputusan besar dapat member pengaruh yang besar terhadap seleksi masalahnya, kedalaman analisis, arti penting yang ditempatkan pada logika dan rasionalitas, atau apakah keputusan organisasional hendaknya diambil secara otokratis oleh seorang manajer individual atau secara kolektif dalam kelompok.

ETIKA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN 

Tiga Kriteria Keputusan Etis

• Utilarian
Keputusan diambil atas dasar konsekuensi mereka. Tujuan kriteria ini adalah memberikan kebaikan yang terbesar untuk jumlah yang terbesar.Pandangan ini cenderung mendominasi pengambilan keputusan bisnis.

• Hak 
Criteria ini menekankan pada individu untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasan hak yang mendasar. Hal ini berarti menghormati hak dasar para individu, seperti hak berbicara dan hak untuk memperoleh pembelaan.

• Keadilan
Hal ini mensyaratkan individu untuk mengenakan dan memperkuat aturan-aturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga ada pembagian manfaat dan biaya yang pantas.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Perilaku Pengambilan-Keputusan Etis

• Tahap-tahap perkembangan moral
Adalah suatu penilaian dari kapasitas seseorang untuk menimbang secara moral. Makin tinggi perkembangan moral seseorang, makin kurang bergantung ia pada pengaruh-pengaruh luar dan, dari situ , akan makin cenderung untuk berperilaku etis.

• Tempat kedudukan kendali
Karakteristik kepribadian yang mengukur sejauh mana orang meyakini bahwa mereka bertanggung jawab untuk peristiwa-peristiwa dalam hidup mereka.

• Lingkungan organisasional 
Merujuk pada persepsi karyawan mengenai pengharapan organisasional. Apakah organisasi itu mendorong perilaku yang etis atau tidak.
 
BAB IV
PERILAKU ORGANISASI DAN METODE

Organisasi adalah suatu kelompok orang dalam satu wadah untuk tujuan bersama.
Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisis organisasi (organization analysis).
Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut.
  • Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama 
  • James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama 
  • Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih
  • Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan..
Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran [1]
Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus.[1] Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup.[1] Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.[1]
Partisipasi
Dalam berorganisasi setiap individu dapat berinteraksi dengan semua struktur yang terkait baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung kepada organisasi yang mereka pilih.[6]. Agar dapat berinteraksi secara efektif setiap individu bisa berpartisipasi pada organisasi yang bersangkutan.[1] Dengan berpartisipasi setiap individu dapat lebih mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan.[1]
Pada dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan.[1].
Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah semata.[1] Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan mental, pikiran, dan emosi atau perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.[1]
Unsur-unsur
Menuruth Keith Davis ada tiga unsur penting partisipasi[1]:
  1. Unsur pertama, bahwa partisipasi atau keikutsertaan sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata atau hanya keterlibatan secara jasmaniah.
  2. Unsur kedua adalah kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti, bahwa terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok.
  3. Unsur ketiga adalah unsur tanggung jawab. Unsur tersebut merupakan segi yang menonjol dari rasa menjadi anggota. Hal ini diakui sebagai anggota artinya ada rasa “sense of belongingness”.
Jenis-jenis
Keith Davis juga mengemukakan jenis-jenis partisipasi, yaitu sebagai berikut[1]:
  1. Pikiran (psychological participation)
  2. Tenaga (physical partisipation)
  3. Pikiran dan tenaga
  4. Keahlian
  5. Barang
  6. Uang
Syarat-syarat
Agar suatu partisipasi dalam organisasi dapat berjalan dengan efektif, membutuhkan persyaratan-persyaratan yang mutlak yaitu .
  • Waktu. Untuk dapat berpatisipasi diperlukan waktu. Waktu yang dimaksudkan disini adalah untuk memahamai pesan yang disampaikan oleh pemimpin. Pesan tersebut mengandung informasi mengenai apa dan bagaimana serta mengapa diperlukan peran serta
  • Bilamana dalam kegiatan partisipasi ini diperlukan dana perangsang, hendaknya dibatasi seperlunya agar tidak menimbulkan kesan “memanjakan”, yang akan menimbulkan efek negatif.
  • Subyek partisipasi hendaknya relevan atau berkaitan dengan organisasi dimana individu yang bersangkutan itu tergabung atau sesuatau yang menjadi perhatiannnya.
  • Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk berpartisipasi, dalam arti kata yang bersangkutan memiliki luas lingkup pemikiran dan pengalaman yang sama dengan komunikator, dan kalupun belum ada, maka unsur-unsur itu ditumbuhkan oleh komunikator.
  • Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi timbal balik, misalnya menggunakan bahasa yang sama atau yang sama-sama dipahami, sehingga tercipta pertukaran pikiran yang efektif atau berhasil.
  • Para pihak yang bersangkutan bebas di dlam melaksanakan peran serta tersebut sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
  • Bila partisipasi diadakan untuk menentukan suatu kegiatan hendaknya didasarkan kepada kebebasan dalam kelompok, artinya tidak dilakukan pemaksaan atau penekanan yang dapat menimbulkan ketegangan atau gangguan dalam pikiran atau jiwa pihak-pihak yang bersangkutan. Hal ini didasarkan kepada prisnsip bahwa partisipasi adalah bersifat persuasif.
Partisipasi dalam organisasi menekankan pada pembagian wewenang atau tugas-tugas dalam melaksanakan kegiatannya dengan maksud meningkatkan efektif tugas yang diberikan secara terstruktur dan lebih jelas.

Bentuk-bentuk organisasi
1. Organisasi politik adalah organisasi atau kelompok yang bergerak atau berkepentingan atau terlibat dalam proses politik dan dalam ilmu kenegaraan, secara aktif berperan dalam menentukan nasib bangsa tersebut. Organisasi politik dapat mencakup berbagai jenis organisasi seperti kelompok advokasi yang melobi perubahan kepada politisi, lembaga think tank yang mengajukan alternatif kebijakan, partai politik yang mengajukan kandidat pada pemilihan umum, dan kelompok teroris yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan politiknya. Dalam pengertian yang lebih luas, suatu organisasi politik dapat pula dianggap sebagai suatu sistem politik jika memiliki sistem pemerintahan yang lengkap.
Organisasi politik merupakan bagian dari suatu kesatuan yang berkepentingan dalam pembentukan tatanan sosial pada suatu wilayah tertentu oleh pemerintahan yang sah. Organisasi ini juga dapat menciptakan suatu bentuk struktur untuk diikuti.
2. Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.
3. Organisasi mahasiswa adalah organisasi yang beranggotakan mahasiswa sebagai wadah kegiatan ko dan atau ekstra kurikuler. Organisasi ini dapat berupa organisasi kemahasiswaan intra kampus, organisasi kemahasiswaan ekstra kampus, maupun semacam ikatan mahasiswa kedaerahan yang pada umumnya beranggotakan lintas atau antar kampus. Salah satu bentuk organisasi mahasiswa di kampus Indonesia adalah Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis (IOMS) baik di tingkat perguruan tinggi maupun tingkat nasional sebagai wadah kerja sama dan berjejaring untuk mengembangkan potensi serta partisipasi aktif terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan kemajuan Indonesia. Beberapa IOMS tingkat nasional memiliki legalitas berupa SK dari Dirjen DIKTI (tidak ada keharusan) dan hanya ada satu IOMS yang mewakili setiap organisasi profesi mahasiswa di tingkat nasional. Di luar negeri juga terdapat organisasi mahasiswa berupa Perhimpunan Pelajar Indonesia, atau PPI yang beranggotakan pelajar dan mahasiswa Indonesia.
Pada dasarnya, Organisasi Mahasiswa adalah sebuah wadah berkumpulnya mahasiswa demi mencapai tujuan bersama, namun harus tetap sesuai dengan koridor AD/ART yang disetujui oleh semua anggota dan pengurus organisasi tersebut. Organisasi Mahasiswa tidak boleh keluar dari rambu-rambu utama tugas dan fungsi perguruan tinggi yaitu tri darma perguruan tinggi, tanpa kehilangan daya kritis dan tetap berjuang atas nama mahasiswa, bukan pribadi atau golongan.
Manajemen
Manajemen sumber daya manusia adalah suatu ilmu atau cara bagaimana mengatur hubungan dan peranan sumber daya (tenaga kerja) yang dimiliki oleh individu secara efisien dan efektif serta dapat digunakan secara maksimal sehingga tercapai tujuan bersama perusahaan, karyawan dan masyarakat menjadi maksimal. Manajemen didasari pada suatu konsep bahwa setiap karyawan adalah manusia - bukan mesin - dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis.

Tujuan-tujuan Manajemen, terdiri atas 4 :
1.       Manajemen Organisasional
Ditujukan untuk dapat mengenali keberadaan manajemen sumber daya manusia dalam memberikan kontribusi pada pencapaian efektivitas organisasi. Walaupun secara formal suatu departemen sumber daya manusia diciptakan untuk dapat membantu para manajer, namun demikian para manajer tetap bertanggung jawab terhadap kinerja karyawan. Departemen sumber daya manusia membantu para manajer dalam menangani hal-hal yang berhubungan dengan sumber daya manusia.
2.      Manajemen Fungsional
Ditujukan untuk mempertahankan kontribusi departemen pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Sumber daya manusia menjadi tidak berharga jika manajemen sumber daya manusia memiliki kriteria yang lebih rendah dari tingkat kebutuhan organisasi.
3.      Manajemen Sosial
Ditujukan untuk secara etis dan sosial merespon terhadap kebutuhan-kebutuhan dan tantangan-tantangan masyarakat melalui tindakan meminimasi dampak negatif terhadap organisasi. Kegagalan organisasi dalam menggunakan sumber dayanya bagi keuntungan masyarakat dapat menyebabkan hambatan-hambatan.
4.      Manajemen Personal
Ditujukan untuk membantu karyawan dalam pencapaian tujuannya, minimal tujuan-tujuan yang dapat mempertinggi kontribusi individual terhadap organisasi. Tujuan personal karyawan harus dipertimbangkan jika parakaryawan harus dipertahankan, dipensiunkan, atau dimotivasi. Jika tujuan personal tidak dipertimbangkan, kinerja dan kepuasan karyawan dapat menurun dan karyawan dapat meninggalkan organisasi.

 Fungsi dan Proses Manajemen
Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi, manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain—pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan—tak akan dapat berjalan.
Rencana dapat berupa rencana informal atau rencana formal. Rencana informal adalah rencana yang tidak tertulis dan bukan merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi. Sedangkan rencana formal adalah rencana tertulis yang harus dilaksanakan suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu. Rencana formal merupakan rencana bersama anggota korporasi, artinya, setiap anggota harus mengetahui dan menjalankan rencana itu. Rencana formal dibuat untuk mengurangi ambiguitas dan menciptakan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan.

Ciri-ciri Manajer Profesional :
         Orang-orang profesional mendasarkan keputusannya pada prinsip-prinsip umum, sehingga banyaknya kursus dan program latihan manajemen menunjukan bahwa prinsip-prinsip manajemen dapat dipercaya dan digunakan sebagai patokan khusus, dan dapat di tanggung jawab.
         Orang-orang profesional mencapai status profesionalnya melalui prestasi, bukan melalui favoritisme atau faktor lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Walaupun belum ada standar obyektif yang disepakati untuk menilai prestasi manajerial.
         Orang-orang profesional harus tunduk pada kode etik yang melindungi kliennya. Namun karena keprofesionalan pada bidang khusus, sering kali klien terlalu berharap padanya dan sebagai akibatnya, manajer berada dalam posisi yang rawan, atau yang berbahaya.
         Borje O. Saxberg menyarankan karakteristik keempat dari profesionalisme, yaitu pengabdian (dedication) dan keterikatan (commitment) sehingga dalam setiap bidang orang-orang profesional menggabungkan hidup dan pekerjaannya melalui pengabdian dan keterikatan pribadinya.

Manajemen dan Tata Kerja
Tata kerja atau metode adalah satu cara bagaimana (how) agar sumber – sumber dan waktu yang tersedia dan amat diperlukan dapat dimanfaatkan dengan tepat sehingga proses kegiatan manajemen dapat dilaksanakan dengan tepat pula.
Dengan tata kerja yang tepat mengandung arti bahwa proses kegiatan pencapaian tujuan sudah dilakukan secara ilmiah dan praktis, disamping itu pemakaian tata kerja yang tepat pada pokoknya ditujukan untuk :
a) Menghindari terjadinya pemborosan di dalam penyalahgunaan sumber-sumber dan waktu yang tersedia.
b) Menghindari kemacetan-kemacetan dan kesimpangsiuran dalam proses pencapaian tujuan.
c) Menjamin adanya pembagian kerja, waktu dan koordinasi yang tepat.
Jadi hubungan antara manajemen dan tata kerja dapat dilukiskan seperti dibawah ini : Manajemen : Menjelaskan perlunya ada proses kegiatan dan pendayagunaan sumber-sumber serta waktu sebagai faktor-faktor yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan demi tercapainya tujuan.
Tata Kerja : Menjelaskan bagaimana proses kegiatan itu harus dilaksanakan sesuai dengan sumber-sumber dan waktu yang tersedia.
3. Manajemen, Organisasi, dan Tata Kerja
Eratnya hubungan atau hubungan timbal balik antara ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut :
a) Manajemen : Proses kegiatan pencapaian tujuan melalui kerjasama antar manusia.
b) Organisasi : Alat bagi pencapaian tujuan tersebut dan alat bagi pengelompokkan kerjasama.
 c) Tata kerja : Pola cara-cara bagaimana kegiatan dan kerjasama tersebut harus dilaksanakan sehingga tujuan tercapai secara efisien.
     Dari konsep tersebut, jelaslah bahwa baik manajemen, organisasi maupun tata kerja ketiganya diarahkan kepada tercapainya tujuan.