BAB I
PENGERTIAN PERILAKU ORGANISASI.
Pengertian Perilaku Organisasi
- Perilaku organisasi adalah suatu studi yang mempelajari tingkah laku
manusia dimulai dari tingkah laku secara individu, kelompok dan tingkah
laku ketika berorganisasi, serta pengaruh perilaku individu terhadap
kegiatan organisasi dimana mereka melakukan atau bergabung dalam
organisasi tersebut.
Perilaku organisasi merupakan suatu bidang studi yang mengamati tentang
pengaruh perilaku individu, kelompok dan perilaku dalam struktur
organisasi dengan maksud untuk mendapatkan pengetahuan guna memperbaiki
keefektifan organisasi.
Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari
bagaimana seharusnya perilaku tingkat individu, tingkat kelompok, serta
dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun
organisasi).
Pengertian prilaku organisasi menurut beberapa ahli,sebagai berikut :
- Toha (2001) bahwa yang dimaksud perilaku organisasi adalah suatu studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku manusia dalam suatu organisasi atau suatu kelompok tertentu.
- John (1983) yang menyebutkan bahwa perilaku organisasi merupakan suatu istilah yang agak umum yang menunjukkan kepada sikap dan perilaku individu dan kelompok dalam organisasi, yang berkenaan dengan studi sistematis tentang sikap dan perilaku, baik yang menyangkut pribadi maupun antar pribadi di dalam konteks organisasi.
- James L. Gibson, John. M. Ivancevich, James. H. Donelly Jr. (1986) menyebutkan bahwa yang dimaksud perilaku organisasi adalah studi tentang perilaku manusia, sikapnya dan hasil karyanya dalam lingkungan keorganisasian.
- Robbin (2001) bahwa perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang menyelidiki dampak perorangan, kelompok dan struktur pada perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki keefektifan organisasi.
- Prof.Joe.Kelly , perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang mempelajari sifat-sifat organisasi, termasuk bagaimana organisasi di bentuk, tumbuh dan berkembang.
- Drs. Adam Indrawijaya, perilakuorganisasi adalah suatu bidang studi yang mempelajari semua aspek yang berkaitan dengan tindakan manusia, baik aspek pengaruh anggota terhadap organisasi maupun pengaruh organisasi terhadap anggota.
- Drs. Sutrisna Hari, MM, perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang mempelajari dinamika organisasi sebagai hasil interaksi dari sifat khusus (karakteristik) anggota dan sifat khusus (karakteristik) para anggotannya dan pengaruh lingkungan.
- Larry L Cummings bahwa perilaku organisasi adalah suatu cara berpikir, suatu cara untuk memahami persoalan-persoalan dan menjelaskan secara nyata hasil-hasil penemuan berikut tindakan-tindakan pemecahan.
RUANG LINGKUP PRILAKU ORGANISASI
Perilaku Organisasi, sesungguhnya terbentuk dari perilaku-perilaku
individu atau kelompok yang terdapat dalam organisasi tersebut. Oleh
karena itu – sebagaimana telah disinggung diatas – pengkajian masalah
perilaku organisasi jelas akan meliputi atau menyangkut pembahasan
mengenai perilaku individu atau kelompok. Dengan demikian dapat dilihat
bahwa ruang lingkup kajian ilmu perilaku organisasi hanya terbatas pada
dimensi internal dari suatu organisasi.
Dalam kaitan ini, aspek-aspek yang menjadi unsur-unsur, komponen atau
sub sistem dari ilmu perilaku organisasi antara lain adalah : motivasi,
kepemimpinan, stres dan atau konflik, pembinaan karir, masalah sistem
imbalan, hubungan komunikasi, pemecahan masalah dan pengambilan
keputusan, produktivitas dan atau kinerja (performance), kepuasan,
pembinaan dan pengembangan organisasi (organizational development), dan
sebagainya.Sementara itu aspek-aspek yang merupakan dimensi eksternal
organisasi seperti faktor ekonomi, politik, sosial, perkembangan
teknologi, kependudukan dan sebagainya, menjadi kajian dari ilmu
manajemen strategik (strategic management).
Jadi, meskipun faktor eksternal ini juga memiliki pengaruh yang sangat
besar terhadap keberhasilan organisasi dalam mewujudkan visi dan
misinya, namun tidak akan dibahas dalam konteks ilmu perilaku
organisasi.
KERANGKA DASAR KONSEP PERILAKU ORGANISASI
Kerangka dasar pada perilaku organisasi adalah terletak pada dua
komponen yaitu individu-individu yang berperilaku, baik itu perilaku
secara individu, perilaku kelompok, dan perilaku organisasi.
Komponen yang kedua adalah organisasi formal sebagai wadah dari perilaku
itu. Yaitu sebagai sarana bagi ndividu dalam bermasyarakat ditandai
dengan keterlibatannya pada suatu organisasi. Dan, menjalankan perannya
dalam organisasi tersebut.
BAB II
DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDU
2.1 Pengertian Dasar Perilaku Individu
Perilaku
adalah respon individu terhadap stimulus atau suatu tindakan yang dapat
diamati dan mempunyai tujuan baik disadari ataupun tidak.
Individu
berasal dari kata individiuum, yang artinya tak terbagi. Individu
adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas dalam
lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola
tingkah laku spesifik dirinya.
Makna
manusia menjadi individu apabila pola tingkah lakunya hampir identik
dengan tingkah laku massa yang bersangkutan. Proses yang meningkatkan
ciri-ciri individualitas pada seseorang sampai pada dirinya sendiri
disebut proses individualitas atau aktualisasi diri. Individu dibebani
berbagai peranan yang berasal dari kondisi kebersamaan hidup, maka
muncul struktur masyarakat yang akan menentukan kemantapan masyarakat.
Konflik mungkin terjadi karena pola tingkah laku spesifik dirinya
bertentangan dengan peranan yang dituntut oleh masyarakat disekitarnya.
Perilaku
manusia sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perilaku itu
sendiri adalah suatu fungsi dari interaksi antara seorang individu
dengan lingkungannya. Dilihat dari sifatnya, perbedaan perilaku manusia
itu disebabkan karena kemampuan, kebutuhan, cara berpikir untuk
menentukan pilihan perilaku, pengalaman, dan reaksi affektifnya berbeda
satu sama lain.
Berdasarkan
uraian di atas, maka dapat diartikan bahwa dasar perilaku individu
merupakan bakat atau pembawaan dari respon seseorang terhadap stimulus
(rangsangan) yang berasal dari lingkungannya.
2.2 Konsep Diri Individu
Diri
adalah inti dari keberadaan seseorang dengan sadar. Kewaspadaan diri
diartikan sebagai konsep diri seseorang. Sosiolog Victor Gecas
mendefinisikan konsep diri (self concept) sebagai “konsep yang dimiliki
oleh individu atas dirinya sendiri sebagai suatu mahluk fisik, sosial,
dan spiritual atau moral. Dengan kata lain, suatu konsep diri tidak akan
mungkin ada tanpa kapasitas untuk berpikir.
Menurut
pendapat George Herbert Mead, diri manusia berkembang secara bertahap
melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain. Tahap-tahap
pengembangan diri (self) manusia, yaitu :
1. Tahap Persiapan (Prepatory Stage)
Tahap
ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan
diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman
tentang diri
2. Tahap meniru (Play Stage)
Pada
tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri, siapa nama orang
tuanya, kakaknya, dsb. Dengan kata lain, sebagian dari orang tersebut
merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan
bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap nilai dan norma
3. Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
Peniruan
yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang
secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya
menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga
memungkinkan individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di
luar rumah
4. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Stage)
Pada
tahap ini seseorang telah dianggap dewasa
a. Self Esteem (penghargaan diri)
Adalah
suatu keyakinan nilai dari diri sendiri berdasarkan evaluasi diri
secara keseluruhan. Self Esteem diukur dengan menanyakan kepada para
responden dengan melakukan survei untuk menentukan kesepakatan atau
ketidaksepakatan dengan pernyataan positif maupun negatif. Pernyataan
positif, misal saya merasa bahwa saya adalah seseorang yang berarti
seperti yang lainnya. Pernyataan negatif, misal saya merasa tidak
memiliki banyak hal untuk dibanggakan.
b. Self Efficacy (kemanjuran diri)
Adalah
keyakinan seseorang mengenai peluangnya untuk berhasil mencapai tugas
tertentu. Self Efficacy muncul secara lambat laun melalui pengalaman,
kemampuan-kemampuan kognitif, sosial, bahasa atau fisik yang rumit.
Pengalaman masa kanak-kanak memiliki dampak yang kuat pada self
efficacy.
c. Self Monitoring (pemantauan diri)
Adalah
lingkup dimana seseorang mengamati perilaku ekspresifnya dan
menyesuaikannya dengan situasi. Para ahli dalam bidang ini menjelaskan
individu-individu yang memiliki self monitoring tinggi mengatur
penampilan diri mereka yang ekspresif untuk penampilan publik yang
diinginkan. Para individu yang rendah self monitoringnya, dianggap
kurang mampu atau tidak termotivasi untuk mengatur penampilan ekspresif
diri mereka sendiri. Oleh karena itu, perilaku ekspresif mereka dianggap
secara fungsional mencerminkan keadaan dalam diri mereka sendiri yang
berjalan lama dan sejenak termasuk sikap, ciri, dan perasaan mereka.
2.3 Unsur-unsur Pembentuk Perilaku
Skinner,
mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang
(stimulus) dan tanggapan (respon). Secara operasional perilaku diartikan
sebagai suatu respon seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar
subjek.
Menurut
Bloom, membagi perilaku manusia kedalam 3 domain (ranah) yaitu ranah
kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Ketiga ranah tersebut
diukur melalui : pengetahuan (knowledge), sikap/tanggapan (attitude), dan praktek (practical).
1. Pengetahuan
Pengetahuan
merupakan hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang
sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang.
Menurut
Rogers bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru)
di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu :
a. Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus
b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut
c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya
d. Trial, subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus
e. Adaption, subjek telah berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus
a. Tahu (know) artinya mengingat kembali suatu materi (Recall) yang telah dipelajari
b. Memahami (comprehension) artinya kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui
c. Aplikasi adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi sebenarnya
d. Analisis
adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam
komponen-komponen yang masih dalam suatu struktur organisasi
e. Sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang sudah ada
f. Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur.
2. Sikap
Menurut
Likert (Azwar, 1995) sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi
perasaan seseorang terhadap satu objek perasaan mendukung atau memihak
(favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak
(unfavorable).
Menurut Notoatmodjo orang mau menerima dan memperhatikan tingkatan, antara lain:
a. Menerima artinya orang mau menerima dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek
b. Merespon artinya memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas adalah suatu indikasi dari sikap
c. Menghargai artinya mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain suatu masalah
d. Bertanggung jawab adalah bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko.
Pengukuran
sikap dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung. Secara
langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden
terhadap suatu objek (sangat setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju)
3. Praktek atau tindakan
Untuk
mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor
pendukung yang memungkinkan, antara lain fasilitas dan dukungan
(support).
a. Persepsi adalah mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil
b. Respon terpimpin yaitu dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar
c. Mekanisme
yaitu apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar
secara otomatis dan sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.
2.4 Mekanisme Pembentukan Perilaku
A. Pandangan Behavioristik
Behaviorisme
memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses
pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau
menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan,
karena stimulus datang dari lingkungan (world) dan respon juga ditujukan
kepadanya, maka mekanisme terjadi.
Yang dimaksud dengan lingkungan (world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu :
1. Lingkungan objektif (umgebung = segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).
2. Lingkungan efektif (umwelt =
segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan
pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme
dan ia meresponsnya)
Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan.
à Contoh :
Seorang
mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan
kelas yang terasa panas, secara spontan mahasiswa tersebut
mengipas-ngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.
Ruangan
kelas yang panas merupakan lingkungan dan menjadi stimulus bagi
mahasiswa tersebut, secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan
respons yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah
setelah mengipas-ngipaskan buku.
Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut:
à Contoh :
Ketika
sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang
terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung,
ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan
meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di
ruangan kelas, sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih
nyaman dalam mengikuti perkuliahan.
Ruangan
kelas yang gelap, waktu sore hari, dan cuaca mendung merupakan
lingkungan, ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya,
meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin
tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya berjalan ke depan,
meminta ijin ke dosen, dan menyalakan lampu merupakan respons yang
dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut, suasana kelas menjadi
terang dan mahasiswa menjadi lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan
merupakan lingkungan (W).
B. Pandangan humanistic
Menurut pandangan ini perilaku merupakan siklus dari dorongan timbul, aktivitas dilakukan, tujuan dihayati, dan kebutuhan terpenuhi atau rasa puas.
Sebenarnya,
masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang
mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors
(panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf,
otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak).
Dengan
mengambil contoh perilaku sadar tadi, mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin
merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas, sehingga
tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. Menggerakkan
kaki menuju ke depan, mengucapkan minta izin kepada dosen, tangan
menekan saklar lampu merupakan effector.
Holistik
atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti
aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu
merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa
ada stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme
menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan why (mengapa). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how),
baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik)
maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Perilaku
individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi
mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya, akan
merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu
dalam dirinya.
Dalam hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan individu secara hierarkis, yaitu:
1. kebutuhan fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan
2. kebutuhan keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual
3. kebutuhan kasih sayang atau penerimaan
4. kebutuhan prestise atau harga diri, yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
5. kebutuhan aktualisasi diri.
Sementara itu, Stranger menyebutkan empat jenis kebutuhan individu, yaitu:
Sementara itu, Stranger menyebutkan empat jenis kebutuhan individu, yaitu:
1. Kebutuhan
berprestasi (need for achievement), yaitu kebutuhan untuk berkompetisi,
baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang
tertinggi
2. Kebutuhan berkuasa (need for power), yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain
3. Kebutuhan
untuk membentuk ikatan (need for affiliation), yaitu kebutuhan untuk
mengikat diri dalam kelompok, membentuk keluarga, organisasi ataupun
persahabatan
4. Kebutuhan
takut akan kegagalan (need for fear of failure), yaitu kebutuhan untuk
menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat
perkembangannya.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior), sehingga membentuk suatu siklus.
1. Motif primer (basic motive dan emergency motive);
menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari, dikenal dengan istilah
drive, seperti: dorongan untuk makan, minum, melarikan diri, menyerang,
menyelamatkan diri dan sejenisnya
2. Motif
sekunder; menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu
karena pengalaman dan dipelajari, seperti: takut yang dipelajari,
motif-motif sosial (ingin diterima, konformitas dan sebagainya),
motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi, manipulasi. minat),
maksud dan aspirasi serta motif berprestasi.
Untuk
memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya,
yaitu : (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi
pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi
rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai
tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang
dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang
dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran
kegiatan.
Dalam
diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada
tujuan tertentu. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu,
adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling
bertentangan atau biasa disebut konflik.
1. Approach-approach conflict;
jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif
motif sama-sama kuat, dikehendaki serta bersifat positif
2. Avoidance-avoidance conflict;
jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif
motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif
3. Approach-avoidance conflict;
jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih, yang satu positif
dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki
namun sama kuatnya.
Jika
seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti
dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk
mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang
berkepanjangan.
Dalam
pandangan holistik, disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan
dalam dirinya, setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah
pada tujuan tertentu. Dalam hal ini, terdapat dua kemungkinan, tercapai
atau tidak tercapai tujuan tersebut. Jika tercapai tentunya individu
merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). Namun
sebaliknya, jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak
terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi.
Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya,
bergantung kepada akal sehatnya (reasoning, inteligensi). Jika akal
sehatnya berani menghadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat
menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment).
Namun, jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya,
perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosionalnya, maka dia akan
mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment).
1). Agresi marah
2). Kecemasan tak berdaya
3). Regresi (kemunduran perilaku)
4). Fiksasi
5). Represi (menekan perasaan)
6). Rasionalisasi (mencari alasan)
7). Proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan)
8). Sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis)
9). Kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain)
10). Berfantasi dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya).
Di
sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya
agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang
dapat menimbulkan perilaku salah-suai. Sekaligus juga dapat memberikan
bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik
yang berkepanjangan dan frustrasi.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik.
à Contoh :
Ketika
mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu
mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa, sejak awal Arjuna sudah
menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan, sikap dan keterampilannya
dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi
Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives).
Untuk
tujuan jangka pendeknya, dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia
memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan, dia berharap dapat
memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan
yang berhubungan dengan psikologi pendidikan, yang diperolehnya dari
setiap pertemuan tatap muka dengan dosen.
Tujuan
jangka menengah, pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah
Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri).
Selain itu, nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL),
dia berharap dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan
tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang, dia benar-benar berharap
dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten.
Keinginan
dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang
psikologi pendidikan, memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan
nilai A, memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan
(PPL), keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian
berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi
intrinsik).
Berkat
aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi
Pendidikan, dia memperoleh pengetahuan yang luas, sikap yang positif dan
memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan
prinsip-prinsip psikologi. Pada akhir semester, dia memperoleh nilai
terbaik di kelasnya, pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang
disukai oleh peserta didiknya, bahkan kepala sekolahnya meminta dia
untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya.
Setelah
dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah, para peserta
didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan
peserta didiknya. Begitu juga, rekan-rekan seprofesinya sangat hormat
dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. Pada saat mengikuti lomba
pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten, dia berhasil meraih
sebagai juara pertama. Dia sangat mensyukuri atas segala
keberhasilannya, baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah
menjadi guru (homeostatis). Bagi dirinya, Perkuliahan Psikologi
Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses.
1). Perilaku sadar, perilaku yang melalui kerja otak dan pusat susunan syaraf
2). Perilaku tak sadar, perilaku yang spontan atau instingtif
3). Perilaku tampak dan tidak tampak
4). Perilaku sederhana dan kompleks
5). Perilaku kognitif, afektif, konatif, dan psikomotor.
2.5 Pendekatan untuk Memahami Perilaku
Pendekatan
yang sering dipergunakan untuk memahami perilaku manusia adalah
pendekatan kognitif, reinforcement, dan psikoanalistis. Berikut
penjelasan ketiga pendekatan tersebut dilihat dari :
1. Penekanan
2. Penyebab Timbulnya Perilaku
3. Proses
4. Kepentingan masa lalu dalam menentukan perilaku
5. Tingkat dari kesadaran
6. Data
2.6 Variabel Perilaku Individu
1. Variabel kemampuan dan keterampilan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja individu
2. Sedangkan variabel demografis mempunyai pengaruh yang tidak langsung
3. Kelompok
variabel psikologis terdiri dari variabel persepsi, sikap, kepribadian,
belajar, dan motivasi. Variabel ini menurut Gibson banyak dipengaruhi
oleh keluarga, tingkat sosial, pengalaman kerja sebelumnya,dan variabel
demografis.
4. Kelompok variabel organisasi, terdiri dari variabel sumber daya kepemimpinan, imbalan, struktur, dan desain pekerjaan.
1. Karakteristik Biografis
Perbedaan
karakteristik biografis (karakteristik pribadi yang objektif, misalnya
usia, jenis kelamin, status perkawinan, banyak tanggungan, masa kerja) pada
diri individual sering dikaitkan dengan kinerja seseorang dalam
organisasi. Banyak yang meyakini bahwa ada hubungan-hubungan yang
berkaitan, misalnya tingkat kepuasan kerja, tingkat absensi, keinginan
untuk maju, dsb.
A. Usia
Hubungan antara usia dan kinerja pekerjaan kemungkinan adalah isu yang semakin penting dalam dekade mendatang. Alasannya:
1. Karena terdapat keyakinan meluas bahwa kinerja merosot dengan meningkatnya usia
2. Realitas
bahwa angkatan kerja telah menua, misalnya pekerja usia 55 tahun dan
yang lebih tua merupakan sektor yang berkembang paling cepat dari
angkatan kerja dewasa ini
3. Perundang-undangan
Amerika
yang baru-baru ini menyatakan bahwa dengan maksud dan tujuan apapun
melarang perintah pensiun. Sebagian besar pekerja dewasa ini tidak
langsung pensiun pada usia 70 tahun.
B. Jenis Kelamin
Dari
segi jenis kelamin, umumnya tidak ada perbedaan yang konsisten antara
pria dan wanita dalam hal kemampuan memecahkan masalah, keterampilan
analisis, dorongan kompetitif, motivasi, sosibilitas, produktivitas
pekerjaan, kepuasan kerja atau kemampuan belajar. Namun, hasil studi
menunjukkan bahwa wanita lebih bersedia mematuhi wewenang dibandingkan
pria yang lebih agresif dan lebih besar kemungkinannya dalam memiliki
pengharapan untuk sukses, namun tetap saja perbedaannya kecil.
C. Status Perkawinan
Tidak
ada studi yang cukup banyak penelitian untuk menyimpulkan mengenai efek
status perkawinan terhadap produktivitas. Namun riset secara konsisten
menunjukkan bahwa karyawan yang akan menikah lebih sedikit absensinya,
mempunyai tingkat pengunduran yang lebih rendah, dan lebih puas dengan
pekerjaan daripada rekan sekerjanya yang bujangan. Pernikahan menuntut
tanggung jawab lebih besar yang
mungkin membuat pekerjaan tetap lebih berharga dan penting. Sangat
mungkin bahwa karyawan yang tekun dan puas berkemungkinan lebih besar
untuk menikah.
Biasanya
yang membuat ada perbedaan adalah karena posisi wanita sebagai ibu yang
juga harus merawat anak-anaknya. Ini juga yang menimbulkan anggapan
bahwa wanita lebih sering mangkir daripada pria. Jika anak-anak sakit
tentulah ibu yang akan merawat dan menemani di rumah.
D. Banyak Tanggungan
Sangat
sedikit riset yang dilakukan mengenai hubungan antara banyaknya
tanggungan yang dipunyai seorang karyawan dan absensi, pergantian, dan
kepuasan kerja. Bukti yang kuat menyatakan bahwa anak yang dipunyai
seorang karyawan mempunyai suatu hubungan yang positif antara banyaknya
tanggungan dan kepuasan kerja.
E. Masa Kerja
Riset
yang menghubungkan masa kerja dengan keabsenan sangatlah tegas. Secara
konsisten penelitian-penelitian menunjukkan bahwa tidak ada alasan
karyawan yang lebih lama bekerja (senior) akan lebih produktif daripada
junior. Masa kerja merupakan variabel penjelas tunggal yang paling
penting dalam menjelaskan tingkat pengunduran diri karyawan.
Semakin lama orang berada dalam pekerjaan, semakin kecil kemungkinan untuk mengundurkan diri.
Semakin lama orang berada dalam pekerjaan, semakin kecil kemungkinan untuk mengundurkan diri.
2. Kemampuan
Merupakan kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan.
1) Kemampuan
intelektual adalah kemampuan yang diperlukan untuk mengerjakan kegiatan
mental, misalnya berpikir, menganalisis, memahami, yang mana dapat
diukur dalam bentuk tes IQ. Setiap orang mempunyai kemampuan yang
berbeda.
1. kemahiran berhitung
2. pemahaman verbal
3. kecepatan perceptual
4. penalaran induktif
5. penalaran deduktif
6. visualisasi ruang
7. visualisasi ingatan
Tes semua dimensi di atas akan menjadi predictor yang tepat untuk menilai kinerja seluruh karyawan.
2) Kemampuan
Fisik adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang
menuntut stamina, kecekatan, kekuatan, dan keterampilan fisik lainnya.
Kemampuan fisik ini tentu disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang
dijalankan.
1. kekuatan dinamis
2. kekuatan tubuh
3. kekuatan statis
4. kekuatan
5. keluwesan extent
6. keluwesan dinamis
7. koordinasi tubuh
8. keseimbangan
9. stamina
3. Kepribadian
Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “personality”. Secara etimologis, kata personality berasal dari bahasa latin “persona” yang berarti topeng.
Menurut Gordon W Allport “personality
is the dynamic organization within the individual of those
psychophysical system, that determines his unique adjusment to his
environment”.
Menurut
Stephen Robbin, kepribadian merupakan cara individu bereaksi dan
berinteraksi dengan orang lain. Kepribadian terbentuk dari faktor
keturunan, juga lingkungan (budaya, norma, keluarga, dan pengaruh
lainnya) dan juga situasi. Sekaligus kecenderungan psikologis seseorang
untuk melakukan tingkah laku sosial tertentu, baik berupa perasaan,
berpikir, bersikap, dan berkehendak, maupun perbuatan.
Karakteristik
yang bertahan, yang membedakan perilaku seorang individu, seperti sifat
malu, agresif, mengalah, malas, ambisius, setia.
Menurut
Nimran, kepribadian sebagai pengorganisasian yang dinamis dari sistem
psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaian diri dengan
lingkungannya. Dia menambahkan bahwa kepribadian sebagai keseluruhan
cara bagaimana individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain.
Semakin konsisten karakteristik, seperti pemalu, agresif, malas, jujur,
dsb muncul di saat merespon lingkungan, hal itu menunjukkan faktor
keturunan atau pembawaan merupakan faktor yang penting dalam membentuk
kepribadian seseorang.
1. Teori psikoanalisis
Sigmun
Freud, pencetus teori ini, mengemukakan bahwa kepribadian memiliki tiga
komponen, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah komponen dasar dan
berkembang ketika masih kanak-kanak, bahkan bisa sampai tua sekalipun.
Orang yang memperturutkan elemen kepribadian id ini akan terus mengumbar
hawa nafsunya, karena id merupakan elemen kepribadian yang berkenaan
dengan kata hati, hasrat, dan keinginan untuk mengejar kesenangan dan
kepuasan. Superego merupakan elemen kepribadian yang tumbuh dan
berkembang, naik turun selama manusia hidup. Superego merupakan gudang
nilai, norma, dan etika yang dianut seseorang. Ego merupakan elemen
kepribadian yang bersifat sebagai penengah dari dua elemen sebelumnya,
id dan superego.
2. Teori pemenuhan
Carl
Rogers mencetuskan fullfillment theory atau teori pemenuhan. Teori ini
didasari suatu premis bahwa manusia hanya memiliki satu dasar kekuatan
yang secara terus-menerus mendorongnya ke arah pemenuhan akan
aktualisasi diri. Maslow juga mengemukakan teori pemenuhan kebutuhan.
Menurutnya, kebutuhan manusia itu bertingkat, dimulai dari yang paling
rendah sampai yang paling tinggi.
1. Kebutuhan fisiologis, merupakan kebutuhan yang paling mendasar
2. Kebutuhan akan rasa aman, merupakan kebutuhan yang kedua, baik secara fisik maupun mental
3. Kebutuhan sosial, karena secara kodrati manusia merupakan mahluk sosial
4. Kebutuhan akan rasa harga diri, setiap orang membutuhkan penghargaan, pengakuan, dan kepercayaan dari orang lain
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri, setiap orang memiliki potensi diri yang ingin dikembangkan seoptimal mungkin.
Berdasarkan
dua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa didalam hidupnya setiap
manusia memiliki kebutuhan dari yang paling mendasar hingga aktualisasi
diri sehingga manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhannya itu.
3. Teori konsistensi
Menurut
teori ini kepribadian manusia itu tidak dibawa sejak lahir, tetapi
dipelajari melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan dimana
manusia itu hidup. Teori ini disebut teori konsistensi karena manusia
selalu mempersepsikan setiap stimulus yang datang dari lingkungan
kemudian mengembangkan sikap dan perilaku sesuai dengan tuntutan
lingkungannya. Salah satu teori konsistensi yang terkenal adalah teori
disonansi kognitif yang berkaitan dengan pikiran, harapan, persepsi,
sikap dan pendapat. Menurut teori ini, manusia memiliki keinginan untuk
mempertahankan konsistensi sikap, pengalaman, dan perilakunya.
Ada sejumlah atribut kepribadian yang perlu dicermati:
a. Daerah pengendalian
Ada
dua daerah pengendalian, yaitu kepribadian bersifat pengendalian
internal yang merupakan kepribadian dimana seseorang percaya bahwa
dialah yang mengendalikan apa yang terjadi pada dirinya. Serta
kepribadian bersifat eksternal yang merupakan keyakinan seseorang bahwa
apa yang terjadi pada dirinya ditentukan oleh lingkungan, seperti nasib
dan keberuntungan.
b. Paham otoritarian
Paham
ini berkeyakinan bahwa ada perbedaan status dan kekuasaan pada
orang-orang yang ada dalam organisasi. Sifat kepribadian otoritarian
yang tinggi memiliki intelektual yang kaku, membedakan orang atau
kedudukan dalam organisasi, mengeksploitasi orang yang memiliki status
di bawahnya, suka curiga, dan menolak perubahan.
c. Orientasi Prestasi
Mc
Clelland, tentang kebutuhan untuk berprestasi, menyebutkan bahwa ada
dua karakteristik sifat kepribadian seseorang yang memiliki kebutuhan
untuk berprestasi tinggi, yaitu:
1. Mereka secara pribadi ingin bertanggung jawab atas keberhasilan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan padanya
2. Mereka lebih senang dengan suatu tingkatan risiko.
Meskipun kepribadian itu unik tetapi ada beberapa ahli yang berusaha menggolongkan kepribadian, misalnya Hipocrates dan Gelanus yang membagi tipologi kepribadian menjadi 4 tipe yaitu :
1) Kholeris
2) Melankolis
3) plegmatis, dan
4) sanguinis.
Kretschmer
meninjau tipologi kepribadian berdasarkan segi konstitusi dan
temparament. Berdasarkan konstitusi jasmani manusia digolongkan menjadi
tipe piknis, leptosom, atletis dan displatis. Sedangkan berdasarkan temperamen kejiwaan manusia digolongkan menajdi schizophrenia dan depresif.
Berdasarkan
orientasi nilai, Spranger mengemukakan 6 tipologi manusia yaitu,
teoritik, ekonomi, estetis, agama, moral, dan kekuasaan.
Pengukuran kepribadian dapat ditempuh dengan cara observasi, inventory dan teknik proyektif.
Dua
diantara pendekatan paling tua untuk mendeskripsikan kepribadian
melibatkan penggolongan orang-orang kedalam satu angka terbatas dengan
jenis berbeda dan menskalakan derajat kemana mereka dapat dideskripsikan
oleh ciri berbeda. Di sana, sepertinya ada kecenderungan alami untuk
orang-orang tempatkan mereka sendiri dan perilakunya orang lain kedalam
kategori berbeda. Untuk menguji teori formal, para ahli jiwa telah
mengembangkan perbedaan ini berdasarkan jenis dan ciri. Banyak
orang-orang gemar mempergunakan jenis kepribadian pada kehidupan
sehari-hari, karena mereka menolong menyederhanakan proses kompleks dari
pemahaman orang lain.
Salah
satu jenis paling awal teori dimulai pada abad kelima oleh Hippocrates,
ahli pengobatan Yunani yang memberikan perobatan sumpah Hippocratic.
Dia membuat teori bahwa tubuh yang kandung empat zalir dasar atau
senangkan hati, masing-masing berhubungan dengan satu perangai tertentu,
satu pola emosi dan perilaku.
Pada
abad detik A.D, satu ahli pengobatan Yunani, Galen kepribadian
perorangan itu bergantung pada humor yang adalah utama pada tubuhnya.
Galen memasangkan Hippociates s humor tubuh dengan perangai kepribadian
sesuai dengan perancangan berikut :
Teori
yang diajukan Galen diyakini untuk centuries, taiki melalui Zaman
Pertengahan, walau ini belum menghambat ke penelitian dengan cermat
modern.
Di
waktu modern, William Sheldon mengemukakan satu teori bentuk badan
terkait dengan perangai. Dia menugaskan orang-orang ketiga kategori
berlandaskan bangun tubuh mereka : endomorphic (lemak, lunak, ronde),
mesomorphic (berotot, segi-empat, kuat) atau ectomorphic (encerkan,
lama, rapuh).
Berdasarkan
bangun tubuh tersebut, Sheldon meyakini bahwa Endomorps adalah
disantaikan, suka makan, dan ramah. Mesomorphs adalah orang-orang fisik,
diisi dengan daya, keberanian, dan kecenderungan tegas. Ectomorphs
adalah cerdas, artistik, dan introvert, mereka memikirkan hidup
dibandingkan pengkonsumsiannya. Untuk suatu masa waktu teorinya Sheldon
cukup berpengaruh.
4. Pembelajaran (proses belajar)
Adalah bagaimana kita dapat menjelaskan dan meramalkan perilaku, dan pahami bagaimana orang belajar.
Belajar adalah setiap perubahan yang relatif permanen dari perilaku individu yang terjadi sebagai hasil pengalaman.
Cronbach mengartikan “learning is shown by an change individual behaviour as a result of experiences. Belajar
juga dapat diartikan sebagai “proses usaha yang dilakukan individu
untuk memperoleh sesuatu yang baru sebagai hasil dari pengalaman.
1). Memiliki tujuan dan disadari
2). Adanya penerimaan informasi
3). Terjadinya proses internalisasi, dan
4). Perubahan bersifat relatif permanen,
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Faktor
di luar individu yang mempengaruhi belajar adalah faktor non-sosial dan
faktor sosial. Sedangkan faktor dalam diri individu yang mempengaruhi
belajar adalah faktor fisiologis dan psikologis.
Ada beberapa teori pembelajaran :
1. Pengkondisian
klasik merupakan suatu tipe pengkondisian dimana seorang individu
menanggapi beberapa rangsangan yang tidak akan selalu menghasilkan
respon yang sama.
2. Pengkondisian
operan merupakan suatu tipe pengkondisian dimana perilaku sukarela yang
diinginkan menyebabkan suatu penghargaan atau mencegah suatu hukuman.
3. Pembelajaran
sosial yaitu orang dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman
langsung. Sering juga disebut teori pembelajaran sosial, ada
proses-proses yang harus dialami didalamnya agar pembelajaran
berlangsung baik, yaitu proses perhatian, proses penahanan, proses
reproduksi motor, proses penguatan
BAB III
PERSEPSI DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN INDIVIDUAL
PERSEPSI
Persepsi dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan –kesan indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungan mereka. Apa yang di persepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang obyektif. Tidak harusi demikian, tetapi sering ada ketidaksepakatan.
Mengapa persepsi itu penting? Hal ini dikarenakan perilaku orang-orang didasarkan pada persepsi mereka didasarkan pada apa persepsi mereka mengenai apa realitas yang ada. Dunia seperti yang dipersepsikan adalah dunia yang penting dari segi perilaku.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI
1. Pelaku Persepsi
Bila individu memandang sutu objek dan mencoba untuk menafsirkannya, penafsiran itu sangat dipengaruhi karakteristik pribadi dari persepsi individu tersebut . Diantara karakteristik pribadi yang lebih relevan yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan (ekspetasi).
2. Target (objek)
Karakteristik-karakteristik dari target yang akan diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Selain itu target tidak dipandang secara terisolasi, hubungan target dengan latar belakangnya mempengaruhi persepsi. Faktor pada objek antara lain adalah hal baru, gerakan, bunyi, latar belakang, kedekatan.
3. Situasi
Penting bagi kita untuk melihat konteks objek dan peristiwa. Unsur lingkungan sangat mempengaruhi persepsi kita. Faktor yang mepengaruhi situasi adlah waktu, keadaan /tempat kerja, keadaan sosial.
PERSEPSI ORANG
Teori Atribusi
Persepsi kita terhadap orang berbeda dengan persepsi kita terhadap benda mati. Hal ini dikarenakan benda mati tidak memiliki keyakinan, motif, atau maksud. Akibatnya apabila kiata mengamati orang, kita berusaha mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa mereka berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu persepsi dan penilaian kita terhadap tindakan seseorang akan cukup banyak dipengaruhi oleh pengandaian-pengandaian yang kita ambil mengenai keadaan internal orang itu.
Teori atribusi adalah untuk mengembangkan penjelasan dari cara-cara kita menilai orang secara berlainan, bergantung kepada makna apa yang kita hubungkan ke sutau perilaku tertentu. Pada dasarnya, teori tersebut menyarankan bahwa bila kita mengamati perlaku seseorang individu, kita berusaha menentukan apakah perilaku itu karena penyebab internal ataukah eksternal.
Penentuan tersebut sebagian besar bergantung tiga faktor yaitu :
a. Kekhususan : apakah seorang individu memperlihatkan perilaku-perilaku yang berlainan dalam situasi yang berlainan.
b. Konsensus: jika semua orang yang mengahadapi situasi yang serupa bereaksi dengan cara yang sama.
c. Konsistensi: apakah orang itu memberi reaksi dengan cara yang sama dari waktu ke waktu.
Salah satu penemuan yang paling menarik dari teori atribusi adalah bahwa ada kekeliruan atau prasangka yang menyimpang teori atribusi. Kecenderungan untuk meremehkan pengaruh faktor luar dan melebih-lebihkan faktor internal disebut kekeliruan atribusi mendasar. Individu cenderung menghubungkan sukses mereka sendiri dengan faktor internal sementara menyalahkan faktor eksternal atas kegagalan mereka. Hal ini disebut prasangka layanan diri (self serving bias).
Jalan Pintas yang Sering Digunakan dalam Menilai Orang Lain
Persepsi selektif
Orang orang secara selektif menafsirkan apa yang mereka saksikan berdasarkan kepentingan, latar belakang,pengalaman, dan sikap. Suatu contoh, lebih besar kecenderungan anda melihat motor yang mirip motor anda sendiri. Hal ini menunjukkan bagaimana kepentingan pribadi cukup mempengaruhi masalah-masalah yang kita lihat.
Efek halo
Manarik suatu kesan umum mengenai seseorang individu berdasarkan suatu karakteristik tunggal. Gejala ini sering terjadi ketika mahasiswa menilai dosen mereka di ruang kuliah. Jadi seorang dosen akan dinilai pendiam, banyak pengetahuan, populer, tetapi gayanya kurang bersemangat , ia akan dinilai lebih rendah mengenai karakteristik yang lain. Jelas, subyek-subyek membiarkan suatu ciri tunggal mempengaruhi seluruh kesan mereka dari orang-orang yang sedang dinilai.
Efek Kontras
Evaluasi atas karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh pembandingan dengan orang lain yang baru saja dijumpai yang berperingkat lebih tinggi atau lebih rendah pada karakteristik yang sama. Sebagai contoh, anda akan terlihat buruk apabila beradu acting dengan anak-anak. Hal ini dikarenakan penonton sangat mencintai anak-anak. Efek ini dapat memutar-balikkan persepsi. Reaksi kita terhadap satu orang sering dipengaruhi oleh orang lain yang baru saja kita jumpai.
Proyeksi
Menghubungkan karakteristiknya sendiri ke orang lain. Mudah untuk menilai orang lain jika kita mengasumsikan mereka serupa denagan kita. Kecenderungan untuk menghubungkan karakteristik sendiri kepada orang lain, dapat memutarbalilkan persepsi yang dibuat mengenai orang lain.
Berstereotipe
Menilai seseorang atas dasar persepsi seseorang terhadap kelompok itu. Sebagai contoh, andaikan anda seorang pengusaha yang sedang mencari seorang manajer. Anda mencari manjer yang suka bekerja keras dan dapat mengatasi masalah dengan baik. Di masa lalu anda memperoaeh sukses yang besar ketika mempekerjakan individu yang ikut dalam atletik ketika di universitas. Lebih jauh, sejauh para atlet itu suka bekerja keras dan adapat menangani masalah dengan baik pengambilan stereotype ini memperbaiki pengambilan keputusan anda. Tentu saja masalahnya apabila kita berstereotipe secara tidak akurat.
TAUTAN ANTARA PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL
Individu-individu dalam organisasi mengambil keputusan. Yaitu, mereka membuat pilihan dari dua alternatif atau lebih. Oleh karena itu, pengambilan keputusan individual merupakan suatu bagian penting dalam perilaku organisasi. Tetapi bagaimana individu-individu dalam organisasi mengambil keputusan, dan kualitas dari pilihan terakhir mereka, sebagian besar dipengaruhi oleh persepsi-persepsi mereka.
BAGAIMANA KEPUTUSAN HENDAKNYA DIAMBIL?
Proses Pengambilan Keputusan Rasional
Pengambil keputusan yang optimal harus rasional. Artinya dia membuat pilihan memaksimalkan nilai yang konsisten daam batas-batas tertentu. Pilihan dibuat mengikuti model pengambilan keputusan rasional.
Langkah-Langkah dalam Model Pengambilan Keputusan Rasional
1. Tetapkan masalah.
2. Identifikasikan kriteria keputusan.
3. Alokasikan bobot pada kriteria.
4. Kembangkan alternatif.
5. Evaluasilah alternatif.
6. Pililah alternatif terbaik.
Meningkatkan Kreativitas dalam Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan rasional membutuhkan kreativitas. Yakni, menggabungkan gagasan dalam satu cara yang unik atau untuk membuat asosiasi- asosiasi daintara gagasan-gagasan.
Potensial Kreatif
Kebanyakan orang mempunyai potensial kreatif yang dapat mereka gunakan bila dikonfrontasikan dengan sebuah masalah dalam pengambilan keputusan. Namun untuk melepaskan potensial itu, mereka harus keluar dari kebiasaan psikologis yang kebiasaan dari kita terlibat di dalamnya dan beajar bagaimana berpikir tentang satu masalah dengan cara yang berlainan.
Metode Untuk Merangsang Kreativitas Individual
Tindakan yang sederhana dapat sangat berpengaruh untuk menginstruksi seseorang menjadi kreatif dan menghindari pendekatan yang jelas terhadap satu masalah mengahasilkan gagasan yang lebih unik. Metode ini dinamakan instruksi langsung.
Metode lain adalah penyusunan atribut. Dalam metode ini, pengambilan keputusan mengisolasikan karakteristik dari alternatif tradisional. Setiap atribut utama dari alternatif selanjutnyapada gilirannya dipertimbangkan dan diubah dalam setiap cara yang mungkin. Tidak ada gagasan yang di tolak, betapa pun tampaknya lucu.
Kreatifitas juga dapat dirangsang oleh praktik pemikiran lateral atau zig-zag. Dengan pemikiran lateral, para individu menekankan pemikiran yang tidak menekankan pada satu pola melainkan pada penyetrukturan pola. Pemikiran itu tidak harus tepat setiap langkah. Pemikiran itu secara sengaja menggunakan informasi yang acak atau tidak relevan guna membawa satu cara baru untuk melihat suatu masalah.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI
Rasionalitas terbatas
Kemampuan dari pikiran manusia untuk memformulasi dan menyelesaikan masalah yang rumit itu terlalu kecil untuk memenuhi tuntutan bagi rasionalitas penuh, para individu beroperasi dalam keterbatasan rasionalitas. Mereka merancang model-model yang disederhanakan yang menyuling ciri-ciri hakiki dari masalah-masalah tanpa menangkap semua kerumitannya. Selanjutnya para individu dapat berperilaku rasional dalam batas-batas model yang sederhana.
Salah satu aspek yang lebih menarik dari model rasionalitas terbatas itu adalah bahwaurutan di mana alternatif-alternatif dipertimbangkanbersifat kritisdalam menentukan alternatif mana yang dipilih.
Intuitif
Pengambilan keputusan intuitif, baru-baru ini mulai muncul dan mulai disegani. Para pakar tidak lagi secara otomatis mengasumsikan penggunaan intuisi untuk pengambilan keputusan sebagai tak rasional. Terdapat pengakun yang makin berkembang bahwa analisis rasional terlalu ditekankan dan bahwa, pada kasus-kasus tertentu, mengandalkan pada intuisi dapat memperbaiki pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan intuitif sebagi suatu proses tak sadar yang diciptakan dari dalam pengalaman yang tersaring. Hasilnya adalah bahwa pengambil keputuusan intuitif dapat memutuskan dengan cepat dengan informasi yang terbatas. Intuisi ini tidak harus berjalan secara tak tergantung dengan analisis rasional. Lebih lengkap keduanya saling melengkapi.
Kemungkinan terbesar untuk orang menggunakan keputusan intuitif adalah dalam delapan kondisi yaitu :
1. Bila ada ketakpastian dalamtingkat yang tinggi.
2. Bila hanya sedikit preseden (sesuatu yang bisa dijadikan teladan) untuk diikuti.
3. Bila variable-variabel kurang dapat diramalkan secara ilmiah.
4. Bila fakta terbatas.
5. Bila fakta tidak jelas menunjukkan jalan untuk diikuti.
6. Bila data analitis kurang berguna.
7. Bila ada beberapa penyelesaian alternatifyang masuk akal untuk dipilih, dengan argument yang baik untuk masing masing.
8. Bila waktu terbatas dan ada tekanan untuk segera diambil keputusan yang tepat.
Identifikasi Masalah
Masalah-masalah yang tamapak cenderung memiliki probabilitas terpilih yang lebih tinggi dibanding masalah-masalah yang penting. Hal ini dikarenakan dua hal:
1. Mudah untuk mengenal masalah-masalah yang tampak.hal ini lebih mungkin menangkap perhatian pengambil keputusan. Ini menjelaskan mengapa pemerintah lebih memperhatikan masalah kriminal daripada buta huruf.
2. Perlu diingat bahwa kita prihatin dengan pengambilan keputusan dalam organisasi. Para pengambil keputusan ingin tampil kompeten dan berada di puncak masalah. Ini memotivasi mereka untuk memusatkan perhatian yang tampak bagi orang lain.
Adalah biasa dalam kepentingan terbaik pengambil keputusan menyerang masalah-masalah yang lagi “high”. Bila kinerja pengambil keputusan itu kemudian ditinjau kembali, pengevaluasi lebih mungkin memberikan penilaian yang tinggi kepada seseorang yang secara agresif menyerang masalah-masalah yang tampak disbanding kepada seseorang yang tindakan-tindakanya kurang tampak jelas.
Pengembangan Alternatif
Karena pengambil keputusan jarang mencari sesuatu pemecahan optimum, melainkan yang agak memuaskan, kamiberharap untuk menemukan sutu penggunaan minimal atas kreatifitas dalam mencari alternatif-alternatif.
Pengambil keputusan menghindari tugas-tugas sulit yang mempertimbangkan semuasemua factor penting, menimbang relatif untung dan ruginya, serta mengkalkulasikan nilai untuk masing masing alternatif.
Pengambil keputusan mengambil langkah kecil ke arah sasarannya. Dengan mengetahui sifat komprehehsif dari seleksi pilihan, para pengambil keputusan membuat perbandingan suksesif karenakeputusan tak diambil selama-lamanya atau ditulis di atas batu, melainkan keputusan-keputusan diambil dan dibuat lagi tanpa ada habisnya dalam perbandingan kecil antara pilihan-pilihan yang sempit.
Membuat pilihan
Untuk menghindari informasi yang terlalu sarat, para pengambil keputusan mengandalkan heuristik atau jalan pintas penilaian dalam pengambilan keputusan. Ada dua kategori umum heuristik yang masing-masing menciptakan bias dalam penilaian.
• Heuristik ketersediaan: Kecenderungan begi orang untuk mendasarkan informasi yang sudah ada di tangan mereka.
• Heuristik representatif: Menilai kemungkinan dari suatu kejadian dengan menarik analogi dan melihat situasi yang identik di mana sebenarnya tidak identik.
• Peningkatan komitmen: Suatu peningkatan komitmen pada keputusan sebelumnya meskipun ada informasi negative.
Gaya Pengambilan Keputusan
• Direktif
Orang yang menggunakan gaya direktif memiliki toleransi yang rendah terhadap ambiguitas dan mencari rasionalitas. Tipe direktif mengambil keputusan yang diambil dengan cepat dan beroriaentasi jangka pendek.
• Analitik
Tipe ini memiliki toleransi yang jauh lebih besar terhadap ambiguitas disbanding pengambil keputusan direktif. Lebih banyak informasi dan pertimbangan atas alternatif yang lebih banyak ketimbang alternatif yang digunakan tipe direktif.
• Konseptual
Individu cenderung menjadi sangat luas dalam pandangan mereka dan mempertimbangkan banyak alternatif. Orientasi mereka jangka panjang dan mereka sangat baik dalam menetukan solusi yang kreatif.
• Behavior
Pengambil keputusan yang baik dengan yang lain. Mereka memperhatikan kinerja dari orang lain dan bawahannya serta reseptif terhadap usulan-usulan. Gaya manajer ini mengutamakan komunikasi dan penerimaan.
Perbedaan kultural
Kita perlu mengakui bahwa latar belakang budaya dari pengambil keputusan besar dapat member pengaruh yang besar terhadap seleksi masalahnya, kedalaman analisis, arti penting yang ditempatkan pada logika dan rasionalitas, atau apakah keputusan organisasional hendaknya diambil secara otokratis oleh seorang manajer individual atau secara kolektif dalam kelompok.
ETIKA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Tiga Kriteria Keputusan Etis
• Utilarian
Keputusan diambil atas dasar konsekuensi mereka. Tujuan kriteria ini adalah memberikan kebaikan yang terbesar untuk jumlah yang terbesar.Pandangan ini cenderung mendominasi pengambilan keputusan bisnis.
• Hak
Criteria ini menekankan pada individu untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasan hak yang mendasar. Hal ini berarti menghormati hak dasar para individu, seperti hak berbicara dan hak untuk memperoleh pembelaan.
• Keadilan
Hal ini mensyaratkan individu untuk mengenakan dan memperkuat aturan-aturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga ada pembagian manfaat dan biaya yang pantas.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Perilaku Pengambilan-Keputusan Etis
• Tahap-tahap perkembangan moral
Adalah suatu penilaian dari kapasitas seseorang untuk menimbang secara moral. Makin tinggi perkembangan moral seseorang, makin kurang bergantung ia pada pengaruh-pengaruh luar dan, dari situ , akan makin cenderung untuk berperilaku etis.
• Tempat kedudukan kendali
Karakteristik kepribadian yang mengukur sejauh mana orang meyakini bahwa mereka bertanggung jawab untuk peristiwa-peristiwa dalam hidup mereka.
• Lingkungan organisasional
Merujuk pada persepsi karyawan mengenai pengharapan organisasional. Apakah organisasi itu mendorong perilaku yang etis atau tidak.
BAB IV
PERILAKU ORGANISASI DAN METODE
Organisasi adalah suatu kelompok orang dalam satu wadah untuk tujuan bersama.
Dalam
ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai
bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan
manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisis organisasi (organization analysis).
Terdapat
beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama
satu sama lain, dan ada pula yang berbeda.
Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana
orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis,
terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan
sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan),
sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara
efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut.
- Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama
- James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama
- Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih
- Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan..
Sebuah organisasi dapat terbentuk karena
dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta
tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut
terhadap masyarakat.
Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui
keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi
seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai
anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran [1]
Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus.[1] Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup.[1]
Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di
dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota,
orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.[1]
Partisipasi
Dalam
berorganisasi setiap individu dapat berinteraksi dengan semua struktur
yang terkait baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung
kepada organisasi yang mereka pilih.[6]. Agar dapat berinteraksi secara efektif setiap individu bisa berpartisipasi pada organisasi yang bersangkutan.[1] Dengan berpartisipasi setiap individu dapat lebih mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan.[1]
Pada dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau pikiran dan emosi
atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya
untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan.[1].
Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah semata.[1]
Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan mental, pikiran, dan
emosi atau perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya
untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan
serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.[1]
Unsur-unsur
Menuruth Keith Davis ada tiga unsur penting partisipasi[1]:
- Unsur pertama, bahwa partisipasi atau keikutsertaan sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata atau hanya keterlibatan secara jasmaniah.
- Unsur kedua adalah kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti, bahwa terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok.
- Unsur ketiga adalah unsur tanggung jawab. Unsur tersebut merupakan segi yang menonjol dari rasa menjadi anggota. Hal ini diakui sebagai anggota artinya ada rasa “sense of belongingness”.
Jenis-jenis
Keith Davis juga mengemukakan jenis-jenis partisipasi, yaitu sebagai berikut[1]:
- Pikiran (psychological participation)
- Tenaga (physical partisipation)
- Pikiran dan tenaga
- Keahlian
- Barang
- Uang
Syarat-syarat
Agar suatu partisipasi dalam organisasi dapat berjalan dengan efektif, membutuhkan persyaratan-persyaratan yang mutlak yaitu .
- Waktu. Untuk dapat berpatisipasi diperlukan waktu. Waktu yang dimaksudkan disini adalah untuk memahamai pesan yang disampaikan oleh pemimpin. Pesan tersebut mengandung informasi mengenai apa dan bagaimana serta mengapa diperlukan peran serta
- Bilamana dalam kegiatan partisipasi ini diperlukan dana perangsang, hendaknya dibatasi seperlunya agar tidak menimbulkan kesan “memanjakan”, yang akan menimbulkan efek negatif.
- Subyek partisipasi hendaknya relevan atau berkaitan dengan organisasi dimana individu yang bersangkutan itu tergabung atau sesuatau yang menjadi perhatiannnya.
- Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk berpartisipasi, dalam arti kata yang bersangkutan memiliki luas lingkup pemikiran dan pengalaman yang sama dengan komunikator, dan kalupun belum ada, maka unsur-unsur itu ditumbuhkan oleh komunikator.
- Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi timbal balik, misalnya menggunakan bahasa yang sama atau yang sama-sama dipahami, sehingga tercipta pertukaran pikiran yang efektif atau berhasil.
- Para pihak yang bersangkutan bebas di dlam melaksanakan peran serta tersebut sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
- Bila partisipasi diadakan untuk menentukan suatu kegiatan hendaknya didasarkan kepada kebebasan dalam kelompok, artinya tidak dilakukan pemaksaan atau penekanan yang dapat menimbulkan ketegangan atau gangguan dalam pikiran atau jiwa pihak-pihak yang bersangkutan. Hal ini didasarkan kepada prisnsip bahwa partisipasi adalah bersifat persuasif.
Partisipasi dalam organisasi menekankan pada pembagian wewenang
atau tugas-tugas dalam melaksanakan kegiatannya dengan maksud
meningkatkan efektif tugas yang diberikan secara terstruktur dan lebih
jelas.
Bentuk-bentuk organisasi
1. Organisasi politik adalah organisasi atau kelompok yang bergerak atau berkepentingan atau terlibat dalam proses politik
dan dalam ilmu kenegaraan, secara aktif berperan dalam menentukan nasib
bangsa tersebut. Organisasi politik dapat mencakup berbagai jenis
organisasi seperti kelompok advokasi yang melobi perubahan kepada politisi, lembaga think tank yang mengajukan alternatif kebijakan, partai politik yang mengajukan kandidat pada pemilihan umum, dan kelompok teroris
yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan politiknya. Dalam
pengertian yang lebih luas, suatu organisasi politik dapat pula dianggap
sebagai suatu sistem politik jika memiliki sistem pemerintahan yang lengkap.
Organisasi
politik merupakan bagian dari suatu kesatuan yang berkepentingan dalam
pembentukan tatanan sosial pada suatu wilayah tertentu oleh pemerintahan
yang sah. Organisasi ini juga dapat menciptakan suatu bentuk struktur
untuk diikuti.
2. Organisasi sosial
adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang
berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai
sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara.
Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk
organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat
mereka capai sendiri.
3. Organisasi mahasiswa
adalah organisasi yang beranggotakan mahasiswa sebagai wadah kegiatan
ko dan atau ekstra kurikuler. Organisasi ini dapat berupa organisasi
kemahasiswaan intra kampus, organisasi kemahasiswaan ekstra kampus,
maupun semacam ikatan mahasiswa kedaerahan
yang pada umumnya beranggotakan lintas atau antar kampus. Salah satu
bentuk organisasi mahasiswa di kampus Indonesia adalah Ikatan Organisasi
Mahasiswa Sejenis (IOMS) baik di tingkat perguruan tinggi maupun
tingkat nasional sebagai wadah kerja sama dan berjejaring untuk
mengembangkan potensi serta partisipasi aktif terhadap peningkatan
kualitas pendidikan dan kemajuan Indonesia. Beberapa IOMS tingkat
nasional memiliki legalitas berupa SK dari Dirjen DIKTI (tidak ada
keharusan) dan hanya ada satu IOMS yang mewakili setiap organisasi
profesi mahasiswa di tingkat nasional. Di luar negeri juga terdapat
organisasi mahasiswa berupa Perhimpunan Pelajar Indonesia, atau PPI yang
beranggotakan pelajar dan mahasiswa Indonesia.
Pada dasarnya, Organisasi Mahasiswa adalah sebuah wadah berkumpulnya mahasiswa demi mencapai tujuan bersama, namun harus tetap sesuai dengan koridor AD/ART yang disetujui oleh semua anggota dan pengurus organisasi tersebut. Organisasi Mahasiswa
tidak boleh keluar dari rambu-rambu utama tugas dan fungsi perguruan
tinggi yaitu tri darma perguruan tinggi, tanpa kehilangan daya kritis
dan tetap berjuang atas nama mahasiswa, bukan pribadi atau golongan.
Manajemen
Manajemen sumber daya manusia adalah suatu
ilmu atau cara bagaimana mengatur hubungan dan peranan sumber
daya (tenaga kerja) yang dimiliki oleh individu secara efisien dan
efektif serta dapat digunakan secara maksimal sehingga tercapai tujuan
bersama perusahaan, karyawan dan masyarakat menjadi maksimal. Manajemen
didasari pada suatu konsep bahwa setiap karyawan adalah manusia - bukan
mesin - dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis.
Tujuan-tujuan Manajemen, terdiri atas 4 :
1. Manajemen Organisasional
Ditujukan untuk dapat mengenali
keberadaan manajemen sumber daya manusia dalam memberikan kontribusi
pada pencapaian efektivitas organisasi. Walaupun secara formal suatu
departemen sumber daya manusia diciptakan untuk dapat membantu para
manajer, namun demikian para manajer tetap bertanggung jawab terhadap
kinerja karyawan. Departemen sumber daya manusia membantu para manajer
dalam menangani hal-hal yang berhubungan dengan sumber daya manusia.
2. Manajemen Fungsional
Ditujukan untuk mempertahankan
kontribusi departemen pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan
organisasi. Sumber daya manusia menjadi tidak berharga jika manajemen
sumber daya manusia memiliki kriteria yang lebih rendah dari tingkat
kebutuhan organisasi.
3. Manajemen Sosial
Ditujukan untuk secara etis dan
sosial merespon terhadap kebutuhan-kebutuhan dan tantangan-tantangan
masyarakat melalui tindakan meminimasi dampak negatif terhadap
organisasi. Kegagalan organisasi dalam menggunakan sumber dayanya bagi
keuntungan masyarakat dapat menyebabkan hambatan-hambatan.
4. Manajemen Personal
Ditujukan untuk membantu karyawan
dalam pencapaian tujuannya, minimal tujuan-tujuan yang dapat
mempertinggi kontribusi individual terhadap organisasi. Tujuan personal
karyawan harus dipertimbangkan jika parakaryawan harus dipertahankan,
dipensiunkan, atau dimotivasi. Jika tujuan personal tidak
dipertimbangkan, kinerja dan kepuasan karyawan dapat menurun dan
karyawan dapat meninggalkan organisasi.
Fungsi dan Proses Manajemen
Dalam manajemen, perencanaan adalah proses
mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan
itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan
merupakan proses terpenting dari semua fungsi, manajemen karena tanpa
perencanaan fungsi-fungsi lain—pengorganisasian, pengarahan, dan
pengontrolan—tak akan dapat berjalan.
Rencana dapat berupa rencana informal atau
rencana formal. Rencana informal adalah rencana yang tidak tertulis dan
bukan merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi. Sedangkan
rencana formal adalah rencana tertulis yang harus dilaksanakan suatu
organisasi dalam jangka waktu tertentu. Rencana formal merupakan rencana
bersama anggota korporasi, artinya, setiap anggota harus mengetahui dan
menjalankan rencana itu. Rencana formal dibuat untuk mengurangi
ambiguitas dan menciptakan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan.
Ciri-ciri Manajer Profesional :
Orang-orang profesional
mendasarkan keputusannya pada prinsip-prinsip umum, sehingga banyaknya
kursus dan program latihan manajemen menunjukan bahwa prinsip-prinsip
manajemen dapat dipercaya dan digunakan sebagai patokan khusus, dan
dapat di tanggung jawab.
Orang-orang profesional mencapai
status profesionalnya melalui prestasi, bukan melalui favoritisme atau
faktor lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Walaupun belum ada
standar obyektif yang disepakati untuk menilai prestasi manajerial.
Orang-orang profesional harus tunduk
pada kode etik yang melindungi kliennya. Namun karena keprofesionalan
pada bidang khusus, sering kali klien terlalu berharap padanya dan
sebagai akibatnya, manajer berada dalam posisi yang rawan, atau yang
berbahaya.
Borje O. Saxberg menyarankan
karakteristik keempat dari profesionalisme, yaitu pengabdian
(dedication) dan keterikatan (commitment) sehingga dalam setiap bidang
orang-orang profesional menggabungkan hidup dan pekerjaannya melalui
pengabdian dan keterikatan pribadinya.
Manajemen dan Tata Kerja
Tata kerja atau metode adalah satu cara
bagaimana (how) agar sumber – sumber dan waktu yang tersedia dan amat
diperlukan dapat dimanfaatkan dengan tepat sehingga proses kegiatan
manajemen dapat dilaksanakan dengan tepat pula.
Dengan tata kerja yang tepat mengandung arti
bahwa proses kegiatan pencapaian tujuan sudah dilakukan secara ilmiah
dan praktis, disamping itu pemakaian tata kerja yang tepat pada pokoknya
ditujukan untuk :
a) Menghindari terjadinya pemborosan di dalam penyalahgunaan sumber-sumber dan waktu yang tersedia.
b) Menghindari kemacetan-kemacetan dan kesimpangsiuran dalam proses pencapaian tujuan.
c) Menjamin adanya pembagian kerja, waktu dan koordinasi yang tepat.
Jadi hubungan antara manajemen dan tata kerja
dapat dilukiskan seperti dibawah ini : Manajemen : Menjelaskan perlunya
ada proses kegiatan dan pendayagunaan sumber-sumber serta waktu sebagai
faktor-faktor yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan demi
tercapainya tujuan.
Tata Kerja : Menjelaskan bagaimana proses kegiatan itu harus dilaksanakan sesuai dengan sumber-sumber dan waktu yang tersedia.
3. Manajemen, Organisasi, dan Tata Kerja
Eratnya hubungan atau hubungan timbal balik antara ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut :
a) Manajemen : Proses kegiatan pencapaian tujuan melalui kerjasama antar manusia.
b) Organisasi : Alat bagi pencapaian tujuan tersebut dan alat bagi pengelompokkan kerjasama.
c) Tata kerja : Pola cara-cara bagaimana
kegiatan dan kerjasama tersebut harus dilaksanakan sehingga tujuan
tercapai secara efisien.
Dari konsep tersebut, jelaslah bahwa
baik manajemen, organisasi maupun tata kerja ketiganya diarahkan kepada
tercapainya tujuan.